Kasus Pemuda Tewas di Tubanan: Polisi Imbau Publik Tenang dan Tidak Berspekulasi

Berita, Jepara1216 Dilihat

JEPARAPortalMuria.com — Misteri kematian seorang pemuda di Dukuh Sekuping, Desa Tubanan, Kecamatan Kembang, terus mengusik ketenangan warga. Axsyal Rendy Saputra (24), pendistribusi air galon yang dikenal ramah dan membantu kegiatan desa, ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan pada Minggu (30/11) pagi. Tubuhnya tergeletak di kebun rumput gajah, hanya 60 meter dari rumahnya—dengan leher tergorok dan pakaian bersimbah darah.

Penemuan korban sontak memicu kehebohan. Warga yang pagi itu tengah beraktivitas dikejutkan oleh garis polisi yang membentang di area kebun. Isu liar pun langsung menyeruak di media sosial, menyasar siapa saja yang dicurigai. Namun, polisi menegaskan agar publik menahan diri dan menunggu hasil penyelidikan resmi.

Kasatreskrim Polres Jepara, AKP M Faizal Wildan Umar Rela, membeberkan temuan sementara hasil otopsi yang dilakukan Biddokkes Polda Jateng.

“Pada tubuh korban terdapat luka sayat pada leher, luka iris di pergelangan tangan kiri, serta luka iris dangkal pada dada. Didapatkan tanda mati lemas dan pendarahan hebat,” ungkapnya, Senin (1/12).

Luka di leherlah yang dinilai menjadi penyebab utama kematian. Pembuluh nadi kiri dan tenggorokan korban putus oleh benda tajam.

Di tengah simpang siur kabar yang menyebut ayah tiri sebagai pelaku, AKP Wildan memastikan informasi itu keliru.

“Ayah tiri korban saja berada di luar kota. Jangan berspekulasi,” tegasnya.

Hingga hari itu, enam saksi telah diperiksa, namun penyidik masih membuka ruang kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat.

Kejadian bermula sekitar pukul 05.30 WIB. Nenek korban, Ngatipah, mendapati cucunya tidak ada di rumah. Merasa ada yang janggal, ia meminta bantuan dua warga, Supriyohadi dan Kardi, untuk mencari.

Saat menyisir area belakang rumah, para saksi menemukan ceceran darah. Ibu korban, Endang Fitriyani, yang diberi tahu soal temuan itu langsung jatuh lemas. Pencarian dilanjutkan warga lain hingga akhirnya, sekitar pukul 05.45 WIB, tubuh Rendy ditemukan dalam posisi terlentang di kebun rumput gajah, dengan kondisi yang sudah bersimbah darah dan sudah tak bernyawa.

“Jenazah langsung dibawa ke RSUD Kartini Jepara untuk pemeriksaan lebih lanjut,” jelas Kapolsek Kembang, Iptu Heru Setyawan.

Polisi menemukan dua barang bukti penting: pisau dapur dengan bekas darah di dalam rumah dan satu lagi di sekitar TKP. Keduanya kini sedang dicocokkan dengan luka pada tubuh korban.

“Masih kami dalami keterkaitannya. Sidik jari pada pisau juga sedang kami periksa,” kata Iptu Heru.

Tim Inafis turut melakukan olah tempat kejadian perkara secara menyeluruh. Ponsel korban sedang dianalisis untuk menelusuri komunikasi terakhirnya. Bahkan, anjing pelacak dikerahkan untuk memastikan apakah ada jejak orang lain di sekitar rumah dan kebun.

Proses klarifikasi keluarga sempat terhambat lantaran mereka masih berduka. Namun polisi memastikan penyidikan tetap berjalan.

“Kami masih running, masih menganalisa,” imbuh Kapolsek.

Petinggi Desa Tubanan, Untung Pramono, mengatakan Rendy bukan sosok yang memiliki masalah dengan warga.

“Anak itu biasa saja. Kadang ikut proyek desa, bantu TPK bangun jalan. Sekarang nganter galon. Tidak ada masalah apa-apa,” tuturnya.

Pihak desa juga melakukan penelusuran internal untuk mengetahui siapa saja yang terakhir berinteraksi dengan korban.

Dengan beredarnya spekulasi di media sosial, aparat meminta masyarakat tidak menyebar dugaan tanpa dasar.

“Mohon doa dan dukungan agar kasus ini segera terungkap,” kata Kapolsek.

Hingga kini, penyebab pasti tragedi yang menimpa Rendy masih diselidiki. Polisi berlomba dengan waktu, menelusuri setiap jejak, mengurai setiap kemungkinan, agar kematiannya tidak menjadi misteri yang terkubur begitu saja.

(Red.)