KUDUS , PortalMuria.com – Ironi kembali terjadi di jalur pendakian Gunung Argopiloso, Muria Raya. Plakat baru yang dipasang Lintas Mahamuria (LM) pada Minggu malam, 31 Agustus 2025, hanya bertahan 24 jam sebelum dirusak oleh tangan-tangan jahil.
Padahal, pemasangan plakat ini dilakukan untuk mempercantik jalur pendakian, memberikan penanda resmi, sekaligus menjadi ikon estetika bagi para pendaki yang kerap berfoto untuk mengabadikan momen.
“Plakat yang sudah usang dan rusak kami ganti supaya jalur Argopiloso terlihat indah dan rapi. Apalagi di era media sosial, plakat bisa jadi simbol kebanggaan bahwa pendaki sudah menaklukkan Muria,” ujar Bang BJ Lee, Komandan Tim LM.
Baca Juga : Lintas Mahamuria Guncang Muria: 100 Pendaki Rayakan HUT-RI di “Lintas Dua Argo”
Namun harapan itu buyar seketika. Plakat yang baru sehari dipasang sudah dalam kondisi rusak. “Kami hanya bisa pasrah dan mengelus dada. Kok ya tega-teganya mereka merusak hasil karya yang jelas-jelas untuk kebaikan bersama,” tambahnya.
Fenomena Berulang di Jalur Muria Raya
Bukan hanya di Argopiloso, kasus serupa juga menimpa jalur pendakian Puncak Gajah Mungkur. Plakat yang baru seminggu dipasang pun bernasib sama: dirusak. Pola yang sama membuat komunitas pecinta alam geram sekaligus putus asa.

“Ini bukan sekadar merusak papan, tapi merusak wajah Muria di mata pendaki dan wisatawan,” tegas salah satu anggota LM.
“Pendaki Sejati Menjaga, Bukan Merusak”
Zainul Untung, pendaki asal Sukolilo, turut angkat bicara. Menurutnya, tindakan merusak plakat menunjukkan mental pendaki abal-abal.
“Plakat itu seharusnya menambah estetika pendakian. Kalau ada yang sengaja merusak, berarti dia belum memahami etika naik gunung. Pendaki sejati itu menjaga kelestarian hutan, gunung, dan fasilitas yang sudah diperjuangkan banyak pihak,” tegasnya.
Muria Milik Bersama, Bukan Untuk Ego Pribadi
Baca Juga : Pendakian Bukan Sekadar Hobi, Zainul dari Sukolilo: “Alam Mengajarkan Kita untuk Terus Maju ke Depan”
Kasus ini menyisakan pertanyaan besar: mengapa selalu ada oknum yang merasa bebas berkreasi dengan cara merusak? Muria bukan milik segelintir orang. Gunung adalah ruang bersama yang harus dijaga, bukan dirusak demi kepuasan ego semata.
Pesan keras pun menggaung dari komunitas pendaki: “Muria milik bersama. Kalau cinta gunung, rawatlah. Bukan malah menghancurkan simbol-simbol yang memperindahnya.”
(Red.)








