Festival Berkat Bandeng Bakaran Wetan 2025: Ritual Pesisir yang Menyulap Tradisi Jadi Gerakan Ekologi

Berita, Muria Raya804 Dilihat

PATIPortalMuria.com – Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, tengah menggelar sebuah agenda budaya yang tidak sekadar meriah, tetapi juga membawa pesan ekologis yang kuat. Festival Berkat Bandeng, yang berlangsung dari tanggal 21–23 November 2025, menjadi panggung besar bagi masyarakat pesisir untuk merayakan tradisi sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga alam yang menjadi sumber hidup mereka.

Festival ini mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Bina SDM, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan serta Ditjen Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan dalam program Pemajuan Kebudayaan Desa.

Kepala Desa Bakaran Wetan, Wahyu Supriyo, menegaskan bahwa festival ini dirancang bukan hanya sebagai tontonan, melainkan upaya membangunkan kembali kesadaran ekologis yang telah lama menjadi ruh masyarakat tambak.

“Dulu ada tradisi Krigan, gotong royong membersihkan sungai. Melalui festival ini kami ingin menghidupkan lagi nilai itu, membangun kesadaran sekaligus merekonstruksi tradisi yang membawa pesan ekologi,” jelasnya.

Bagi warga tambak, sungai bukan sekadar aliran air, tetapi “urat nadi” yang menentukan masa depan panen bandeng. Kualitas air menjadi tolok ukur langsung kehidupan ekonomi masyarakat.

“Sungai itu kehidupan. Kalau alam terganggu, ekonomi ikut terguncang,” kata Wahyu.

Dari kesadaran tersebut, Festival Berkat Bandeng lahir sebagai ruang yang memadukan ritual pesisir, edukasi lingkungan, dan kreativitas ekonomi rakyat. Bandeng, yang telah menjadi simbol kehidupan masyarakat Bakaran Wetan sejak generasi ke generasi, diposisikan sebagai ikon budaya sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Dalam tradisi manganan sigit, kirab tumpeng, hingga prosesi berkat bandeng, masyarakat memilih bandeng sebagai sesaji utama,yaitu adalah sebuah ciri khas yang membedakan mereka dari desa-desa lain di Pati.

Serangkaian kegiatan telah disiapkan, meliputi:

  • Rembuk Kali (dialog pemulihan sungai)
  • Prosesi Wiwit Panen
  • Tari Bandeng
  • Pameran seni rupa
  • Lomba olahan bandeng
  • Makan bandeng bersama

Pusat kegiatan dipusatkan di Taman Batik Bakaran Wetan dan kawasan tambak Petinggen.

Bakaran Wetan bukan sekadar desa tambak biasa. Data Dislautkan Kabupaten Pati 2025 menunjukkan Juwana menyumbang 8.368,76 ton dari total 24.361,2 ton produksi bandeng Kabupaten Pati, dan sebagian besar berasal dari tambak di Bakaran Wetan.

Bandeng dari wilayah ini tak hanya menopang pasar lokal, tetapi juga mengalir ke kota-kota besar seperti Semarang dan Jakarta. Warga mengolah bandeng menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti bandeng presto, cabut duri, otak-otak bandeng, hingga aneka kuliner khas yang menggerakkan UMKM.

Di akhir, Wahyu kembali menegaskan filosofi utama festival ini:

“Maka menjaga sungai bukan hanya menjaga air, tetapi juga menjaga masa depan. Ekologi dan ekonomi bukan dua sisi yang saling berlawanan, tetapi satu keberlanjutan.”

Festival Berkat Bandeng hadir bukan sekadar hiburan, tetapi pengingat bahwa budaya, alam, dan ekonomi rakyat bisa berjalan beriringan, asal tradisi ini bisa dijaga bersama.

(Red.)