Nafiah, Srikandi Ukir Jepara yang Bertahan Meski Upah Kian Tergerus Zaman

Jepara831 Dilihat

Jepara , PortalMuria.com – Sering dielu-elukan sebagai Kota Ukir, tanah para maestro yang karyanya dipajang di rumah-rumah megah hingga hotel bintang lima. Namun di balik kemegahan itu, ada kenyataan getir: para pengrajin ukir hidup dalam bayang-bayang upah murah.

Salah satunya adalah Nafiah , perempuan asal Desa Petekeyan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara. Sejak usia sepuluh tahun, ia sudah akrab dengan tatah dan palu. “Dulu belajar dari tetangga. Umur sepuluh tahun sudah bisa, dapat upah Rp200 sehari,” kenangnya, tersenyum tipis.

Kini, lebih dari tiga dekade kemudian, perjuangannya terasa makin berat. Untuk sebuah papan ukiran, Nafiah hanya diganjar Rp10 ribu. Jika dihitung, sehari ia paling banter mengantongi Rp20–30 ribu, bahkan sering lebih sedikit ketika harus menyambi pekerjaan rumah. “Kalau dari pagi sampai sore bisa Rp50 ribu. Tapi itu kalau kerja penuh,” katanya sembari terus menatah kayu jati.

Sepinya Order, Suami Terpaksa Merantau

Nafiah yang juga mengajar anak-anak di TPQ desanya bercerita, pesanan ukiran sekarang jarang datang. Kalaupun ada, bentuknya kasar dengan harga murah. “Satu papan Rp10 ribu. Sehari bisa tiga sampai empat papan,” ungkapnya.

Kondisi ini membuat suaminya yang sesama tukang ukir harus merantau ke Banyuwangi demi penghasilan yang lebih layak. “Di sini sepi. Katanya di sana lebih dihargai,” tuturnya lirih.

Warisan Budaya yang Tak Dihargai

Meski upahnya tak sebanding dengan tenaga dan ketelatenan, Nafiah tetap bertahan. Baginya, mengukir bukan sekadar pekerjaan, tapi jalan hidup sekaligus menjaga identitas Jepara sebagai kota ukir. Ia masih bersyukur bisa bekerja dari rumah, dekat dengan anak-anak, meski dapur hanya mengepul secukupnya.

Kisah Nafiah adalah potret buram di balik kemasyhuran ukir Jepara. Dunia mengenalnya sebagai karya agung, tetapi para pengrajinnya justru dihargai rendah.

Di satu sisi, ukiran Jepara terpajang megah di ruang-ruang elit. Di sisi lain, ada Nafiah yang tetap mengukir dengan penuh cinta, meski penghasilannya tak cukup untuk membayar jerih payahnya.

Jepara memang Kota Ukir. Tapi apakah pengrajinnya benar-benar sudah diperlakukan sebagai maestro?

(Red.)