Air Mata di Mapolres Jepara: Remaja Terlibat Kerusuhan Pulang ke Pelukan Orang Tua

Jepara554 Dilihat

Jepara , PortalMuria.com – Suasana Mapolres Jepara, Kamis (4/9/2025), berubah menjadi ruang penuh haru. Para remaja yang sempat diamankan karena diduga ikut dalam kerusuhan di sekitar Polres dan Kantor DPRD Jepara akhirnya dipertemukan kembali dengan orang tua mereka.

Begitu pintu pertemuan dibuka, tangis pecah. Ada anak yang langsung tersungkur di pangkuan ibunya sambil terisak, ada pula yang berulang kali menunduk, terbata-bata meminta maaf. Tak sedikit orang tua yang ikut menangis, merangkul buah hati mereka seakan enggan dilepaskan lagi.

“Kasihan orang tua mereka, harus menanggung beban akibat ulah anak yang hanya ikut-ikutan,” ujar Kapolres Jepara AKBP Erick Budi Santoso melalui Kasihumas AKP Dwi Prayitna.

Remaja Lugu yang Terjebak Suasana

Fakta yang mencuat lebih mengejutkan: sebagian besar dari mereka masih duduk di bangku SMP dan SMA. Dari pengakuannya, mereka bahkan tak benar-benar paham alasan unjuk rasa. Semua berawal dari rasa penasaran, terbawa arus, lalu terjerumus setelah melihat video kerusuhan yang viral di media sosial.

Artinya, bukan ideologi yang menggerakkan, melainkan rasa ingin tahu yang salah arah,sebuah peringatan keras tentang betapa rentannya generasi muda terprovokasi oleh arus informasi tanpa filter.

Pulang, Tapi Tak Lepas dari Pembinaan

Meski sempat meresahkan masyarakat, Polres Jepara bersama Forkopimda memilih langkah humanis: mengembalikan para remaja ke orang tua masing-masing. Mereka tak hanya dipulangkan, tetapi juga akan mendapat pendampingan keluarga serta pembinaan khusus di sekolah.

“Semoga ini jadi peringatan, agar anak-anak kita tidak mudah dihasut,” tegas AKP Dwi Prayitna.

Pelajaran untuk Semua

Momen haru di Mapolres Jepara bukan sekadar reuni keluarga, tapi juga cermin bagi masyarakat. Bahwa di balik kerusuhan, ada wajah-wajah belia yang sebenarnya masih lugu, namun bisa terseret hanya karena satu klik di media sosial.

Pesan tegas dari Polres Jepara: pendekatan humanis akan terus diutamakan, tapi hukum tetap ditegakkan bagi mereka yang benar-benar terbukti melakukan tindak pidana.

Bagi para orang tua, kejadian ini menjadi alarm keras untuk lebih waspada terhadap lingkungan pergaulan anak. Sementara bagi generasi muda, peristiwa ini adalah pelajaran pahit tentang betapa mahalnya harga dari sebuah “ikut-ikutan”.(Red.)