Dialeg Muria Bergema di Kudus: Anak SMP Tantang Arus Globalisasi dengan Tembang dan Wayang

Muria Raya373 Dilihat

Kudus , PortalMuria.com – Suara dialek Muria menggema lantang di Ballroom Hotel Griptha, Rabu (3/9/2025). Bukan sekadar lomba, tapi sebuah perlawanan budaya. Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X Jawa Tengah dan DIY menggandeng 34 sekolah dari Blora, Jepara, Kudus, hingga Pati untuk membuktikan: generasi muda masih punya nyali menjaga identitas Jawa.

Dari puluhan peserta, hanya 10 finalis yang berhasil menembus grand final. Masing-masing tampil dengan dialog lima menit, mengangkat cerita rakyat, kuliner, ritual adat, hingga tembang klasik.

Salah satunya, Farhan Adinata Chabibi dan Dahlia Putri Lestari dari SMP 1 Jati. Mereka memilih karya Serat Wulangreh ciptaan Pakubuwana IV—sebuah teks klasik penuh petuah moral. Dengan dialek Muria yang kental, keduanya membuktikan bahwa pelajaran bahasa Jawa tidak sekadar teori di kelas.
“Sulitnya hanya melafalkan dengan medok, tapi latihan tiap hari bikin percaya diri,” ujar Farhan.

Berbeda lagi dengan Prabu Satria dari SMP 2 Cepu. Ia memadukan tarian Pujangganong dengan seni pedalangan. Di hadapan juri, Prabu memainkan wayang sambil bercerita tentang asal-usul Kota Baya. “Saya suka wayang sejak kecil, dan masih terus belajar di sanggar,” ungkapnya penuh antusias.

Pamong Budaya Ahli Madya BPK Wilayah X, R. Wikanto Harimurti, menegaskan bahwa ajang ini lebih dari sekadar kompetisi. “Bahasa daerah adalah warisan takbenda yang harus dijaga. Anak-anak SMP lewat lomba ini bisa semakin bangga melestarikan kebudayaan Jawa,” tegasnya.

Tak hanya juri dan panitia, hadir pula Bupati Kudus, perwakilan dinas kebudayaan serta pendidikan dari empat kabupaten, hingga para penggiat bahasa Muria. Kehadiran mereka seolah menegaskan: pelestarian budaya tak bisa berdiri sendiri, perlu sinergi dari pemerintah, masyarakat, dan generasi penerus.

Seluruh finalis mendapat sertifikat dan bingkisan. Namun lebih dari itu, mereka pulang membawa rasa percaya diri baru: menjadi penjaga bahasa dan budaya di tengah arus globalisasi.
“Yang penting anak-anak gembira, jangan dibikin tegang. Biarkan mereka mengekspresikan budaya daerahnya,” tambah Wikanto.

Harapannya, lomba ini tak berhenti di Kudus saja, tapi menjalar ke daerah lain. Sebab di balik suara tembang dan lantang dialek Muria, ada pesan yang lebih besar: generasi muda Jawa siap menjaga akar budayanya, tanpa kehilangan langkah di masa depan.

(Red.)