Portal Muria – 20 April 2026 | Jakarta, 20 April 2026 – Media sosial kembali menjadi arena pertempuran opini publik setelah sebuah unggahan anonim di platform Threads menuduh istri Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, terlibat hubungan di luar nikah dengan seorang drummer band legendaris era 1990-an. Nama perempuan yang menjadi fokus tuduhan tersebut adalah Feby Belinda, sosok yang selama ini lebih dikenal sebagai istri pejabat senior dan aktivis di lembaga sosial ACS.
Unggahan yang diposting pada Minggu, 19 April, menyebutkan bahwa Feby Belinda “ganti‑ganti” pasangan dan kini berhubungan dengan seorang drummer duda yang pernah menggelar konser‑konser besar pada dekade 1990‑an. Penulis anonim, yang menggunakan akun @dista.raysa, menambahkan bahwa pertemuan mereka bermula dari urusan bisnis hiburan, namun kemudian berkembang menjadi kedekatan pribadi. Menurut narasi tersebut, pertemuan berlangsung di berbagai lokasi, mulai dari studio rekaman, kafe, hingga acara publik hingga larut malam.
Serangkaian komentar tambahan menyoroti perubahan perilaku Feby, termasuk penampilan yang konon lebih “berani” dan interaksi yang terlihat mesra di ruang publik. Beberapa netizen mengutip postingan tersebut dengan menyebutkan adanya “story Instagram penuh hint” serta “pelukan dan bisik‑bisik” yang terjadi di luar rumah. Tuduhan ini memperkuat persepsi publik bahwa hubungan tersebut tidak bersifat profesional semata, melainkan melibatkan unsur emosional yang melanggar norma pernikahan.
Ahmad Sahroni, yang dikenal sebagai tokoh politik berpengaruh di Partai Persatuan Pembangunan (PPP), belum memberikan pernyataan resmi terkait spekulasi ini. Pihak kantor DPR maupun tim komunikasi Sahroni menolak komentar, menyatakan bahwa tuduhan masih bersifat “rumor yang belum terverifikasi”. Sementara itu, akun media sosial Feby Belinda masih diam, tanpa membagikan klarifikasi atau menanggapi tuduhan tersebut.
Feby Belinda sendiri memiliki latar belakang yang cukup menarik. Sebelum menjadi istri Sahroni, ia meniti karier di dunia hiburan dan pernah menjadi anggota band pada akhir 1990‑an, meski tidak pernah mencatatkan kesuksesan komersial yang signifikan. Sejak pernikahannya dengan Ahmad Sahroni, ia lebih banyak terlihat dalam kegiatan sosial, termasuk peran aktif di lembaga Amal Cinta Sejati (ACS) yang fokus pada bantuan kemanusiaan. Dalam beberapa kesempatan, Feby dikenal sebagai sosok yang religius dan sering mengunggah pesan‑pesan keagamaan di media sosialnya.
Isu yang beredar kini menimbulkan pertanyaan mengenai batasan antara kehidupan pribadi pejabat publik dan hak publik untuk mengetahui. Di Indonesia, norma sosial masih sangat menekankan kesetiaan dalam pernikahan, terutama bagi figur yang menempati posisi strategis dalam pemerintahan. Oleh karena itu, spekulasi mengenai perselingkuhan tidak hanya mempengaruhi citra pribadi, melainkan juga reputasi politik sahabatnya.
Para ahli komunikasi politik menilai bahwa fenomena viral semacam ini dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi legislatif, terutama bila tidak ada penanganan yang transparan. “Ketika rumor semacam ini menyebar tanpa bukti yang kuat, dampaknya bukan hanya pada pribadi yang terlibat, tetapi juga pada persepsi publik tentang integritas lembaga,” ujar Dr. Rini Setiawan, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia.
Di sisi lain, beberapa pengamat media menyoroti peran algoritma platform daring yang cenderung memperkuat konten sensasional. “Postingan yang mengandung unsur skandal, terutama yang melibatkan tokoh publik, akan lebih cepat mendapatkan eksposur karena algoritma menganggapnya relevan bagi audiens,” jelas Budi Santoso, analis media digital.
Sementara itu, komunitas musik 90‑an mengingatkan bahwa nama drummer yang disebutkan dalam rumor belum diidentifikasi secara resmi. Beberapa musisi senior menolak mengomentari nama tertentu, namun menegaskan pentingnya menghormati privasi artis yang tidak lagi aktif di panggung.
Sejauh ini, tidak ada bukti konkret yang menguatkan tuduhan perselingkuhan. Pihak kepolisian belum menerima laporan resmi, dan jaringan media mainstream masih menunggu konfirmasi lebih lanjut. Dalam iklim politik yang sensitif, semua pihak diimbau untuk menunggu hasil investigasi yang independen sebelum menarik kesimpulan.
Kasus ini memperlihatkan dinamika antara hak publik atas transparansi dan hak individu atas privasi. Apabila terbukti tidak berdasar, tuduhan semacam ini dapat menjadi contoh buruk tentang bagaimana rumor dapat merusak reputasi tanpa dasar yang jelas. Namun, apabila ada fakta yang terungkap, hal itu akan menuntut pertanggungjawaban tidak hanya pada individu yang bersangkutan, tetapi juga pada lembaga tempat mereka bernaung.
Untuk saat ini, publik masih menanti klarifikasi resmi dari keluarga Sahroni. Sementara itu, media akan terus memantau perkembangan dan menyajikan laporan yang berimbang serta berbasis fakta.








