KUDUS, PortalMuria.com – Ribuan warga tumpah ruah di Kompleks Makam Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku, Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Kamis (12/2/2026).
Mereka datang bukan untuk sekadar berziarah, tetapi mengikuti Tradisi Sewu Sempol, ritual sedekah kubur yang terus hidup di tengah modernitas zaman.
Sejak pagi, warga berdatangan membawa sempol atau paha ayam olahan rumahan yang di kemas dalam berbagai wadah. Aroma masakan tradisional bercampur khidmat doa, menghadirkan suasana religius yang kental menjelang Ramadan.
Tradisi Sewu Sempol digelar setiap Kamis terakhir bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa. Bulan yang dikenal sebagai waktu membersihkan diri secara spiritual sebelum memasuki Ramadan.
Sempol yang dibawa warga dikumpulkan di area makam, lalu didoakan bersama. Setelah itu, makanan tersebut dibagikan kembali kepada masyarakat, perangkat desa, hingga tamu dari tingkat kabupaten.
Pengurus Yayasan Punden Keramat, Sumartono, menegaskan bahwa esensi Sewu Sempol bukan sekadar tradisi adat.
“Tujuan utamanya adalah mendoakan para sesepuh yang sudah meninggal, sekaligus mempererat hubungan antar warga,” ujarnya.
Menurutnya, seribu sempol bukanlah soal angka. Angka itu hanya simbol.
“Seribu sempol dikumpulkan dari masyarakat secara sukarela, lalu dibagikan kembali. Makna utamanya ada pada kebersamaan dan doa,” jelasnya.
Kepala Desa Kandangmas, Sofyan, menyebut antusiasme warga terus meningkat dari tahun ke tahun.
Tak hanya warga lokal, para perantau pun rela pulang kampung demi mengikuti ritual tahunan ini.
“Warga Kandangmas sendiri bisa lebih dari dua ribu orang yang hadir. Ditambah peziarah dari Jepara, Purwodadi, bahkan luar kabupaten,” ungkapnya.
Tradisi ini bukan lagi sekadar agenda desa, tetapi telah menjadi magnet spiritual dan budaya.

Sewu Sempol menjelma ruang temu lintas generasi: yang tua mengenang leluhur, yang muda belajar akar sejarahnya.
Saat ini, kawasan makam masih dikelola oleh yayasan. Namun ke depan, pemerintah desa akan terlibat lebih aktif karena lahan makam telah berstatus aset desa dengan sistem guna pakai.
“Ke depan, pemerintah desa tetap akan ikut terlibat karena lahan makam ini sudah menjadi aset desa,” kata Sofyan.
Langkah ini diharapkan mampu menjaga keberlangsungan tradisi tanpa menghilangkan nilai sakralnya.
Di tengah arus budaya instan dan serba digital, Sewu Sempol menjadi pengingat bahwa kebersamaan tak selalu harus megah.
Cukup dengan paha ayam sederhana, doa yang dipanjatkan bersama, dan niat berbagi.
“Dengan tradisi ini, kita diajak untuk berbagi dan bersama-sama mendoakan keluarga yang telah mendahului,” pungkas Sofyan.
Di Kandangmas, Sewu Sempol bukan hanya ritual. Ia adalah identitas.
Dan selama doa masih dipanjatkan di antara ribuan sempol itu, tradisi ini tampaknya akan terus hidup, dari generasi ke generasi.
(Red.)








