Pati, PortalMuria.com — Kawasan mangrove Teluwuk, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati, terus dikembangkan sebagai kawasan wisata sekaligus edukasi lingkungan. Kawasan yang dirintis sekitar lima tahun terakhir tersebut kini mulai dilengkapi berbagai fasilitas pendukung.
Ketua Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Kabupaten Pati, Soekarno, mengatakan kawasan mangrove Teluwuk memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata edukasi pesisir.
Menurutnya, keberadaan kawasan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai lokasi pembelajaran bagi pelajar untuk mengenal lingkungan pesisir secara langsung.
“Sekarang anak-anak SMA PGRI ada kegiatan outing class, keluar sekolah sekaligus healing tipis-tipis. Kebetulan di sini mereka bisa mengenal lingkungan,” kata Soekarno.
Soekarno menjelaskan, kawasan mangrove Teluwuk memiliki luas sekitar 20 hektare dengan bentang kawasan pesisir sekitar satu kilometer dari sisi selatan hingga utara.
Sejumlah fasilitas dasar kini mulai tersedia. Di antaranya musala, kamar mandi, air bersih, tempat pertemuan, hingga menara pandang dengan ketinggian sekitar 10 meter.
Menara tersebut menjadi salah satu fasilitas yang dapat digunakan pengunjung untuk menikmati panorama kawasan pesisir, termasuk pemandangan matahari terbenam.
“Sudah sekitar lima tahun ini masih dalam tahap rintisan untuk wisata. Tetapi fasilitasnya sudah cukup memadai. Ada musala, tempat pertemuan, kamar mandi, air bersih, dan menara pandang sekitar 10 meter,” jelasnya.
Dalam kegiatan penanaman mangrove bersama siswa SMA PGRI 1 Pati, sekitar 3.000 bibit mangrove berhasil ditanam. Jumlah tersebut bahkan melampaui target awal yang ditetapkan sekitar 1.000 bibit.
Meski fasilitas dasar mulai terpenuhi, Soekarno mengatakan masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata yang lebih siap. Salah satunya pembangunan track atau jalur wisata.
Saat ini, jalur wisata yang tersedia baru sekitar 300 meter sehingga masih membutuhkan pengembangan. Sementara itu, akses menuju kawasan sebagian masih berupa jalan makadam dan pembangunan jalan dilakukan secara bertahap, termasuk melalui program TMMD.
Pengembangan kawasan juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. SKK Migas memberikan bantuan berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Selain itu, terdapat dukungan anggaran sekitar Rp500 juta untuk normalisasi saluran di kawasan mangrove.
Menurut Soekarno, pembangunan sejumlah fasilitas juga berasal dari berbagai sumber, mulai dari APBDes, CSR hingga dukungan pemerintah.
Area parkir, misalnya, dibangun dengan anggaran APBDes sekitar Rp50 juta. Sementara musala dibangun melalui dukungan CSR. Adapun menara pandang mendapat dukungan anggaran dari pemerintah desa dan pemerintah provinsi.
Dengan mulai terpenuhinya fasilitas dasar, pengembangan berikutnya akan diarahkan pada penguatan daya tarik wisata. Soekarno juga tengah menyiapkan wahana wisata air berupa beberapa perahu yang nantinya dapat menambah pilihan aktivitas bagi pengunjung.
Ia berharap pengembangan kawasan Mangrove Teluwuk dapat berjalan secara bertahap sehingga kawasan tersebut tidak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga pusat edukasi lingkungan bagi masyarakat dan generasi muda.
“Dengan adanya kegiatan sekolah seperti ini, anak-anak bisa mengenal lingkungan secara langsung. Jadi mangrove ini tidak hanya untuk wisata, tetapi juga bisa menjadi tempat edukasi,” pungkasnya. (*)














