Limbah Tapioka Puluhan Ton dan Sampah Tutupi Bibir Pantai hingga Muara Sungai

Berita, Pati310 Dilihat

PORTALMURIA.COM, PATI – Kondisi Pantai Lestari di Desa Bulumanis Kidul dan kawasan pesisir Desa Bulumanis Lor, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, semakin memprihatinkan. Destinasi wisata yang dahulu menjadi kebanggaan masyarakat kini dipenuhi limbah industri tepung tapioka berupa kulit ari ketela serta sampah rumah tangga yang menumpuk di sepanjang garis pantai hingga menutupi muara sungai.

Berdasarkan pantauan pada Minggu sore (26/7/2026), hamparan pasir sepanjang kurang lebih satu kilometer nyaris tidak terlihat karena tertutup limbah padat berupa kulit ari singkong sisa produksi tepung tapioka. Di sejumlah titik juga berserakan sampah plastik, botol bekas, kayu, hingga popok sekali pakai yang terbawa arus Sungai Suwatu dan Sungai Pangkalan sebelum bermuara di kawasan pantai.

Kondisi di Pantai Bulumanis Lor bahkan dinilai lebih parah dibandingkan Pantai Lestari di Bulumanis Kidul. Gunungan limbah menutup bibir pantai dan muara sungai sehingga menghambat aliran air menuju kawasan tambak.

Akibatnya, para petani tambak di Desa Bulumanis Lor harus bergotong royong hampir setiap hari membuka saluran air agar pasokan air tetap mengalir ke area pertambakan. Kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan aktivitas budidaya, tetapi juga meningkatkan risiko terganggunya produktivitas tambak masyarakat.

Pencemaran yang terus berlangsung membuat daya tarik Pantai Lestari semakin menurun. Wisatawan mulai enggan berkunjung sehingga berbagai fasilitas wisata yang sebelumnya dibangun kini tampak terbengkalai.

Gazebo yang dahulu menjadi tempat bersantai terlihat kosong, sebagian mengalami kerusakan, dan minim perawatan akibat menurunnya jumlah pengunjung.

Padahal, pemerintah desa telah berupaya mengembangkan Pantai Lestari sebagai destinasi wisata dengan membangun gazebo, melakukan penanaman pohon, serta melakukan pengecoran akses jalan menuju lokasi wisata.

Kepala Desa Bulumanis Kidul, Susanto, mengatakan persoalan limbah dan sampah tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Menurutnya, kawasan pantai setiap hari menerima kiriman limbah dan sampah dari wilayah hulu melalui dua aliran sungai, yakni Sungai Suwatu dan Sungai Pangkalan.

“Masalah ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Kami terus menerima kiriman sampah dari wilayah atas karena desa kami diapit Sungai Suwatu dan Sungai Pangkalan. Hampir setiap hari sampah masuk ke pantai dalam jumlah yang banyak,” ujar Susanto, Minggu (26/7/2026).

Ia menjelaskan, pemerintah desa sebenarnya telah berupaya mempercantik kawasan Pantai Lestari sebagai destinasi wisata.

“Kami sudah berusaha mempercantik pantai ini karena merupakan warisan yang harus dijaga. Pohon sudah kami tanam, fasilitas juga sudah dibangun, tetapi kondisi sampahnya memang sangat luar biasa,” katanya.

Menurut Susanto, persoalan paling berat berasal dari limbah industri tepung tapioka berupa kulit ari ketela yang diperkirakan telah mencapai puluhan ton.

Hingga kini limbah tersebut belum dapat diolah secara optimal. Bahkan, limbah yang terus menumpuk dinilai mengganggu kesuburan lahan di sekitar kawasan pantai.

“Jumlahnya sudah puluhan ton. Sampai sekarang kami belum mampu mengolahnya. Bahkan lahan yang terkena limbah itu sulit ditanami,” ungkapnya.

Pemerintah desa berharap para pelaku industri tepung tapioka ikut bertanggung jawab dalam mencari solusi atas persoalan tersebut. Menurut Susanto, kompensasi yang diterima desa sekitar Rp7 juta per tahun belum sebanding dengan dampak lingkungan yang harus ditanggung masyarakat.

“Kami tidak ingin perusahaan ditutup. Yang kami harapkan adalah ada perhatian dan solusi. Ketika perusahaan berkembang, masyarakat yang terdampak juga seharusnya bisa merasakan manfaat dan hidup lebih layak,” tegasnya.

Selain mengganggu sektor wisata dan aktivitas pertambakan, tumpukan limbah kulit ari ketela serta sampah rumah tangga juga berpotensi mengancam keseimbangan ekosistem laut di kawasan pesisir Margoyoso.

Limbah organik yang menumpuk dalam jumlah besar dapat mengalami proses pembusukan yang berpotensi menurunkan kadar oksigen terlarut di perairan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kelangsungan hidup berbagai biota laut seperti ikan, udang, kepiting, kerang, hingga organisme kecil yang menjadi bagian penting dari rantai makanan di kawasan pesisir.

Di sisi lain, sampah plastik, botol bekas, dan popok sekali pakai yang terbawa ke laut berpotensi mencemari perairan, merusak habitat pesisir, serta terurai menjadi mikroplastik yang dapat masuk ke rantai makanan. Jika terus dibiarkan, pencemaran ini dikhawatirkan akan berdampak pada hasil tangkapan nelayan, produktivitas tambak, serta keberlanjutan sumber daya perikanan di wilayah tersebut.

Rusaknya kualitas lingkungan pesisir juga berpotensi mengurangi fungsi alami pantai sebagai habitat berbagai biota laut, sekaligus mempercepat degradasi ekosistem mangrove dan kawasan muara yang menjadi tempat berkembang biaknya berbagai jenis ikan.

Masyarakat berharap pemerintah daerah, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, instansi lingkungan hidup, serta pelaku industri tepung tapioka segera mengambil langkah nyata untuk menghentikan masuknya limbah ke sungai dan kawasan pesisir.

Penanganan terpadu dinilai menjadi solusi yang mendesak agar Pantai Lestari kembali menjadi destinasi wisata yang bersih, produktivitas tambak dapat dipulihkan, serta kelestarian ekosistem laut tetap terjaga untuk generasi mendatang.

“Harapan kami pemerintah benar-benar memberikan solusi. Ini menyangkut kehidupan masyarakat kami. Bagaimana sampah dan limbah ini bisa dikelola dengan baik, sehingga sungai dan pantai kembali bermanfaat bagi warga,” pungkas Susanto.

(Red.)

Posting Terkait

Baca Juga