Beasiswa Mahasiswa Miskin Pati Mandek 3 Bulan, Anak Petani Berprestasi Dikabarkan Putus Kuliah

Berita, Edukasi, Pati34 Dilihat

PATI, Portalmuria.com Program beasiswa mahasiswa kurang mampu di Kabupaten Pati yang selama ini menjadi harapan ratusan keluarga prasejahtera kini menuai sorotan. Pasalnya, bantuan pendidikan yang bersumber dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) sejumlah perusahaan, Bank Jateng, dan Baznas Pati dilaporkan belum cair selama tiga bulan terakhir.

Akibat keterlambatan tersebut, seorang mahasiswa berprestasi dari keluarga petani dikabarkan terpaksa menghentikan kuliahnya karena tidak lagi mampu menanggung biaya pendidikan.

Informasi itu disampaikan Sutomo, salah satu orang tua penerima manfaat beasiswa, saat ditemui di kantor pengacara Deddy Gunawan baru baru ini. Menurutnya, pencairan beasiswa terakhir diterima pada Maret 2026. Namun memasuki April, Mei hingga Juni, tidak ada dana yang masuk ke rekening para penerima manfaat. “Untuk saat ini mulai April, Mei sampai Juni belum ada pencairan sama sekali,” ungkap Sutomo.

Padahal, lanjut dia, bantuan tersebut menjadi salah satu penopang utama kebutuhan pendidikan mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Selain untuk membantu biaya hidup selama kuliah, dana itu juga digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan akademik, seperti praktik perkuliahan, tugas lapangan hingga kebutuhan penunjang lainnya.

“Ini sangat membantu sekali. Kondisi ekonomi banyak keluarga juga masih berat. Beasiswa ini bisa meringankan beban orang tua untuk kebutuhan kuliah anak-anak,” katanya.

Program beasiswa tersebut sebelumnya diberikan kepada 194 mahasiswa berprestasi dari kalangan kurang mampu di Kabupaten Pati. Dalam perjalanannya, jumlah penerima berkurang menjadi 183 mahasiswa.

Besaran bantuan yang diterima bervariasi, yakni Rp1 juta per bulan untuk kategori kurang mampu, Rp1,5 juta per bulan untuk kategori miskin ekstrem, serta Rp2,5 juta per bulan bagi mahasiswa fakultas kedokteran.

Namun di tengah mandeknya pencairan, para orang tua mulai khawatir. Sebab tidak semua penerima berasal dari keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi memadai.

Sutomo mengaku menerima laporan bahwa salah satu penerima manfaat yang dikenal memiliki kemampuan akademik baik kini tidak lagi melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

“Ada satu anak yang kecerdasannya bagus. Tetapi karena orang tuanya hanya petani dan tidak mampu membiayai kuliah tanpa bantuan itu, sekarang fix keluar kuliah,” ujarnya.

Kondisi tersebut menjadi ironi tersendiri. Di saat pemerintah terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia, justru muncul kabar mahasiswa berprestasi harus meninggalkan bangku kuliah karena persoalan biaya.

Program beasiswa mahasiswa kurang mampu ini diketahui merupakan salah satu program yang digagas pada masa kepemimpinan Bupati nonaktif Sudewo. Saat diluncurkan, program tersebut mendapat apresiasi luas karena dinilai mampu membuka akses pendidikan tinggi bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang selama ini terkendala biaya.

Karena itu, keterlambatan pencairan selama tiga bulan memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat. Program yang menyangkut masa depan ratusan mahasiswa semestinya telah memiliki perencanaan, skema pendanaan, dan mekanisme pencairan yang matang agar tidak terhambat di tengah jalan.

Belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab tersendatnya pencairan bantuan tersebut. Namun sejumlah pihak mulai mempertanyakan apakah kondisi transisi pemerintahan pasca-nonaktifnya Sudewo maupun perubahan formasi dan kebijakan di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati turut mempengaruhi jalannya program.

Sejauh ini belum ada penjelasan resmi yang secara rinci mengungkap penyebab keterlambatan tersebut.

Merasa tidak mendapatkan kepastian, sejumlah orang tua penerima manfaat mengaku telah mendatangi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati untuk meminta penjelasan. Namun mereka hanya diminta bersabar menunggu proses pencairan.

“Ada orang tua yang sudah menanyakan langsung. Jawabannya diminta menunggu dan bersabar,” kata Sutomo.

Tak ingin persoalan ini berlarut-larut, para orang tua berencana mengajukan audiensi dengan Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati guna meminta kejelasan terkait nasib program tersebut.

“Kami ingin audiensi dengan pemerintah daerah supaya ada kejelasan. Ini menyangkut masa depan anak-anak kami,” tegasnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi mengenai persoalan tersebut, Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra menyatakan bahwa proses pencairan beasiswa masih berjalan.

“Sudah berjalan. Coba tanya di Dinas Pendidikan,” jawabnya singkat melalui pesan WhatsApp.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati Sunarji mengatakan bahwa proses pencairan saat ini masih berada pada tahap perusahaan pemberi bantuan. “Sudah diproses. Baru masuk ke perusahaan,” ujarnya singkat.

Pernyataan tersebut justru memunculkan tanda tanya baru di tengah masyarakat. Jika proses pencairan disebut sudah berjalan, mengapa selama tiga bulan para mahasiswa belum menerima bantuan yang menjadi hak mereka?

Yang jelas, di tengah belum adanya kepastian, ratusan mahasiswa penerima manfaat kini hanya bisa menunggu. Sebab bagi mereka, beasiswa bukan sekadar bantuan pendidikan, melainkan penentu keberlangsungan studi dan harapan untuk mengubah masa depan melalui bangku kuliah. (*)