Pramono Anung Wibowo Terjun ke Kali, Sebut Ikan Sapu‑Sapu ‘Cute’ Meski Jadi Ancaman Serius di Jakarta

Nasional24 Dilihat

Portal Muria – 22 April 2026 | Jakarta, 22 April 2026 – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, kembali mencuri perhatian publik setelah melakukan aksi terjun ke Sungai Ciliwung bersama tim penangkap ikan sapu‑sapu. Dalam momen yang disiarkan langsung lewat media sosial, Pramono menyebut ikan yang dikenal dengan nama pleco atau ikan sapu‑sapu sebagai “cute” meskipun para ahli menegaskan bahwa spesies ini menjadi ancaman serius bagi ekosistem perairan tawar Indonesia.

Penangkapan massal pada Jumat (17/4/2026) menghasilkan total sekitar 6,9 ton ikan sapu‑sapu yang diangkat dari berbagai titik di Jakarta, termasuk wilayah Kelapa Gading, Jakarta Utara. Jumlah tersebut mencerminkan upaya pemerintah daerah yang digabungkan dengan inisiatif warga dan aktivis lingkungan untuk mengendalikan populasi ikan invasif yang kini mendominasi sungai‑sungai besar ibu kota.

Ikan sapu‑sapu berasal dari wilayah Amazon, Amerika Selatan, dan diperkirakan masuk ke Indonesia sejak 1970-an lewat perdagangan ikan hias. Awalnya, spesies ini dipromosikan sebagai pembersih alami dalam akuarium karena kemampuannya mengonsumsi alga dan sisa makanan. Namun, ketika dilepas ke perairan terbuka, adaptasinya yang luar biasa memungkinkan reproduksi cepat dan pemakan berbagai jenis makanan, termasuk telur ikan endemik.

Berbagai studi menunjukkan dampak destruktif ikan sapu‑sapu terhadap keanekaragaman hayati. Data dari Badan Penelitian dan Pengembangan Perikanan mencatat penurunan keanekaragaman ikan air tawar hingga 92,5 % pada tahun 2010 di beberapa daerah yang terdampak. Predasi opportunistik serta kompetisi makanan membuat populasi ikan lokal terdesak, mengancam rantai makanan dan keseimbangan ekosistem sungai.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Haeru Rahayu, menambahkan bahwa ikan ini sulit dimanfaatkan secara komersial. “Selain mengandung logam berat, kandungan nutrisi ikan sapu‑sapu tidak layak untuk konsumsi manusia,” ujarnya melalui akun Instagram resmi pada 20 April 2026. Pernyataan tersebut memperkuat argumen bahwa pengendalian harus dilakukan secara preventif, bukan hanya melalui pemanfaatan.

Metode yang dipilih Pramono dalam aksi penangkapan mengedepankan pendekatan alami tanpa penggunaan bahan kimia. “Jika memakai kimia, isu lingkungan akan semakin besar. Cara konvensional dengan jaring dan perangkap masih yang paling efektif,” kata Pramono saat memberikan keterangan di lokasi. Aksi tersebut melibatkan relawan, aparat kepolisian, dan petugas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, yang bersama‑sama menurunkan jaring di beberapa titik kritis Ciliwung.

Respons publik sangat positif. Video aksi terjun ke sungai dan penyebutan ikan sapu‑sapu sebagai “cute” menjadi viral, memicu diskusi luas di media sosial mengenai pentingnya menjaga ekosistem sungai. Namun, netizen juga menekankan bahwa estetika tidak boleh menutup fakta bahaya biologis yang ditimbulkan oleh spesies invasif ini.

Pemerintah provinsi berjanji bahwa penangkapan massal tidak akan menjadi tindakan sesaat. Rencana jangka panjang mencakup pemantauan rutin, pelatihan warga dalam teknik penangkapan non‑kimia, serta kampanye edukasi tentang bahaya spesies non‑asli. Selain itu, pihak berwenang tengah mengkaji kemungkinan regulasi lebih ketat terkait impor ikan hias untuk mencegah masuknya spesies lain yang berpotensi mengganggu ekosistem.

Kesimpulannya, aksi berani Pramono Anung Wibowo menyoroti urgensi penanganan ikan sapu‑sapu yang telah menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup ikan air tawar Indonesia. Kombinasi upaya pemerintah, partisipasi masyarakat, dan edukasi publik diharapkan dapat menurunkan populasi invasif ini, menjaga keanekaragaman hayati, serta memulihkan kualitas air sungai-sungai utama di Jakarta.