Portal Muria – 22 April 2026 | Pada Senin (20/4/2026) pukul 16.52 waktu setempat, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang lepas pantai timur laut Jepang, tepatnya di kedalaman sekitar 19 kilometer di perairan Samudra Pasifik dekat Prefektur Iwate. Guncangan terasa hingga ibu kota Tokyo, sekitar 530 kilometer dari pusat gempa, dan memicu peringatan tsunami dengan potensi ketinggian hingga tiga meter.
Setelah analisis lanjutan, Badan Meteorologi Jepang (JMA) merevisi kekuatan gempa dari awalnya dilaporkan 7,5 menjadi 7,7 serta memperbaharui kedalaman gempa menjadi 19 km. Pemerintah Jepang, dipimpin oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi, segera mengeluarkan perintah evakuasi sukarela bagi lebih dari 156.000 warga di lima prefektur, termasuk Aomori, Iwate, dan Hokkaido. Meskipun peringatan tsunami awalnya dikeluarkan, gelombang tertinggi yang tercatat hanya sekitar 80 sentimeter di pelabuhan Kuji, Iwate, sehingga peringatan tersebut dicabut beberapa jam kemudian.
Sejumlah infrastruktur mengalami gangguan ringan. Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara melaporkan bahwa sekitar 100 rumah mengalami pemadaman listrik sementara beberapa layanan kereta cepat sempat terganggu. Tidak ada laporan korban jiwa atau kerusakan struktural besar pada fasilitas vital. Namun, enam orang dilaporkan mengalami luka ringan, dua di antaranya dalam kondisi serius, menurut laporan otoritas setempat.
Di tengah situasi, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo (KBRI Tokyo) mengimbau warga negara Indonesia (WNI) untuk tetap tenang, menghindari aktivitas di pesisir, dan mengikuti arahan evakuasi bila diperlukan. Koordinator Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI, Muhammad Al Aula, menyampaikan bahwa tidak ada laporan WNI yang terdampak secara langsung, namun layanan darurat dan hotline telah disiapkan untuk membantu warga yang membutuhkan.
Salah satu WNI yang berada di Jepang, Sofya Suidasari (40), menceritakan pengalamannya saat gempa terjadi di kantornya di distrik Minato, Tokyo. “Karena kantor berada di lantai sembilan, goncangannya terasa sangat kuat, lampu gantung berayun hingga 35 derajat,” ujarnya kepada kontributor BBC News Indonesia. “Guncangannya berlangsung hampir satu hingga dua menit, sampai-sampai saya puyeng. Rekan-rekan kami bahkan menyiapkan helm pelindung karena getaran yang luar biasa,” tambahnya. Setelah gempa mereda, mereka segera meninggalkan kantor dan berdesakan menuju stasiun kereta untuk pulang.
Para ahli menekankan bahwa risiko gempa susulan masih tinggi. JMA mengingatkan publik bahwa gelombang kecil sekalipun dapat berbahaya, dan potensi gempa susulan dengan magnitudo 8,0 atau lebih diperkirakan dapat terjadi dalam satu minggu ke depan, terutama pada dua hingga tiga hari pertama setelah kejadian utama.
Berikut rangkuman langkah-langkah keamanan yang dianjurkan pemerintah Jepang dan KBRI:
- Pastikan lokasi tempat penampungan dan rute evakuasi telah dipetakan.
- Siapkan tas darurat berisi senter, powerbank, uang tunai, makanan ringan, dan botol air.
- Hindari area pantai dan perairan hingga peringatan tsunami resmi dicabut.
- Ikuti informasi resmi melalui aplikasi peringatan darurat seperti NERV atau situs Badan Meteorologi Jepang.
- WNI di Jepang disarankan menghubungi hotline KBRI (+81 80-3506-8612 atau +81 80-4940-7419) bila membutuhkan bantuan.
Pemerintah Jepang juga menurunkan status peringatan tsunami menjadi “advisory” di sebagian wilayah timur laut, namun tetap menekankan kewaspadaan penuh. Tim manajemen krisis telah dibentuk untuk memantau situasi dan menyiapkan bantuan bila diperlukan.
Para wisatawan yang berencana mengunjungi Jepang dalam beberapa hari ke depan disarankan untuk memeriksa pembaruan imbauan perjalanan dari Kementerian Luar Negeri RI serta mengikuti anjuran evakuasi lokal. Meskipun sebagian besar area wisata utama tetap aman, daerah pesisir utara dan wilayah yang baru saja mengalami gempa sebaiknya dihindari sampai situasi stabil.
Secara keseluruhan, gempa M 7,7 ini menegaskan pentingnya kesiapsiagaan bencana di wilayah rawan gempa seperti Jepang. Koordinasi antara otoritas lokal, kedutaan, dan masyarakat internasional menjadi kunci dalam mengurangi dampak dan memastikan keselamatan publik.














