Kekalahan Garuda Muda di Piala AFF U-17: Kurniawan Dwi Yulianto Ungkap Kelemahan dan Janji Perbaikan Menjelang Piala Asia

Olahraga38 Dilihat

Portal Muria – 20 April 2026 | Timnas Indonesia U-17 yang menjadi tuan rumah Piala AFF U-17 2026 terpaksa mengakhiri kampanye mereka di fase grup setelah menempati posisi ketiga Grup A dengan empat poin. Kegagalan tersebut menyingkap sejumlah celah taktik yang diakui secara terbuka oleh pelatih Kurniawan Dwi Yulianto dalam konferensi pers usai laga penutup melawan Vietnam pada 19 April 2026 di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo.

Skuad Garuda Muda, yang dipimpin oleh Kurniawan, menorehkan satu kemenangan (3-0 atas Laos), satu hasil imbang (0-0 melawan Vietnam) dan satu kekalahan (0-2 dari Malaysia). Kekalahan atas Malaysia menjadi titik krusial karena mengurangi peluang tim untuk menyalip lawan grup. Pada laga terakhir, Indonesia hanya mampu menahan serangan agresif Vietnam dan mengamankan hasil imbang 0-0, yang pada akhirnya menyingkirkan mereka dari semifinal.

Kurniawan tidak menyembunyikan rasa penyesalan. “Saya memohon maaf kepada para pendukung karena hasil yang kami capai tidak sesuai dengan target,” ujar pelatih tersebut. Ia menambahkan bahwa target awal tim memang untuk lolos semifinal, namun realitas pertandingan menunjukkan bahwa strategi bertahan dan serangan balik yang diadopsi belum optimal.

Strategi bertahan yang dipilih Kurniawan dipicu oleh observasi awal terhadap gaya bermain Vietnam yang sangat menyerang dan agresif. Tim Indonesia mengandalkan formasi dengan lima bek di belakang dan menunggu peluang untuk melakukan counter‑attack. Namun, menurut pelatih, transisi dari pertahanan ke serangan belum maksimal. “Ketika kami melakukan serangan balik, hasilnya belum maksimal dan ini menjadi catatan penting sebelum kami bertanding di Piala Asia U-17,” jelasnya.

Selain aspek taktik, Kurniawan juga menyoroti kekurangan individu pada fase transisi. Pemain sayap sering kali terjebak dalam duel satu‑law‑satu dengan pemain Vietnam yang memiliki kecepatan tinggi, sehingga peluang untuk memanfaatkan ruang di sisi lapangan berkurang. Pada laga melawan Malaysia, ketidakmampuan mengantisipasi serangan cepat melalui sayap menjadi penyebab kebobolan dua gol.

Untuk memperbaiki performa, Kurniawan mengumumkan rencana evaluasi intensif menjelang Piala Asia U-17 2026. Dari daftar awal yang berisi 50 pemain, pelatih akan menyeleksi 23 pemain terbaik. Ia juga mengindikasikan penambahan tiga pemain diaspora – Matt Baker, Noah, dan Mike – yang berposisi sebagai penjaga gawang, guna memperkuat lini belakang.

Penjaga gawang Abdillah Ishak, yang tampil impresif dengan sejumlah penyelamatan krusial, mendapatkan pujian khusus dari Kurniawan. “Abdillah bermain lepas karena mendapat kepercayaan penuh dari pelatih,” kata Kurniawan, menegaskan pentingnya kestabilan di bawah mistar gawang dalam menghadapi serangan cepat lawan.

Meski hasil akhir mengecewakan, Kurniawan menekankan bahwa perjuangan para pemain tetap patut diapresiasi. “Para pemain telah bekerja keras dan mampu menerapkan game plan bertahan dengan disiplin,” ujar Kurniawan. Ia menutup konferensi pers dengan menegaskan bahwa evaluasi taktik, terutama pada fase transisi, akan menjadi fokus utama dalam persiapan menuju Piala Asia.

Dengan kegagalan ini, Malaysia melaju ke perempat final sebagai tim peringkat dua terbaik grup, sementara Vietnam melaju sebagai juara grup. Timnas Indonesia kini harus mengumpulkan pelajaran dari kekalahan tersebut, memperbaiki kelemahan yang teridentifikasi, dan menyiapkan mental serta taktik yang lebih tajam untuk kompetisi berikutnya.