Kekuatan Kata “We” dalam Politik Global, Lapangan Olahraga, dan Gerakan Sosial: Dari Rusia‑Iran hingga Whitecaps Vancouver

Berita84 Dilihat

Portal Muria – 19 April 2026 | Sejumlah peristiwa terbaru menunjukkan betapa kuatnya narasi kolektif yang dibangun dengan kata “we”. Dari pernyataan menantang Rusia tentang aliansi strategis dengan Iran, hingga kegembiraan tim baseball sekolah menengah dan sorotan para penggemar sepak bola di Vancouver, penggunaan “we” menjadi benang merah yang menautkan dinamika geopolitik, kompetisi olahraga, dan pergerakan sosial.

Di panggung internasional, Rusia baru-baru ini mengumumkan kerja sama rahasia dengan Iran yang menimbulkan kegelisahan di NATO. Dalam sebuah konferensi pers, pejabat militer Rusia menegaskan, “We are in World War III,” menyoroti rasa persatuan mereka melawan apa yang mereka sebut “hiding” di belakang Amerika Serikat. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa aliansi baru ini tidak sekadar taktik militer, melainkan upaya membangun identitas bersama melawan blok Barat.

Sementara itu, di tingkat lokal, tim baseball Cherry Hill West di New Jersey menampilkan kebanggaan kolektif yang serupa. Dengan hanya dua pemain inti kembali, para siswa muda harus “grow up” dengan cepat. Pelatih Dan McMaster mencatat, “There are no soft spots in the Olympic Conference and we did a lot of growing up today,” menggarisbawahi pentingnya solidaritas tim dalam mengatasi tantangan kompetitif. Kemenangan 5-4 melawan Eastern menjadi bukti bahwa rasa kebersamaan dapat mengubah hasil pertandingan.

Di dunia rugby, kepala eksekutif National Rugby League (NRL) Australia, Andrew Abdo, menolak tudingan bahwa investasi besar ke Super League Inggris akan menjadikan kompetisi tersebut “feeder” bagi NRL. Ia menegaskan, “We’re not arrogant,” dan menekankan niat untuk mengembangkan rugby league secara global melalui kemitraan yang setara, bukan dominasi. Pernyataan ini menyoroti bagaimana kata “we” dapat menjadi alat diplomasi dalam negosiasi lintas benua.

Tak kalah penting, para pendukung Vancouver Whitecaps menyalakan semangat kebersamaan dengan slogan “We have to get behind the team”. Seorang superfan berusia 75 tahun, Barry Walker, menggelar spanduk berisi seruan tersebut di setiap pertandingan, mengingatkan publik akan risiko kehilangan klub kesayangan mereka. Pada pertandingan melawan Sporting Kansas City, lebih dari 21.000 penonton mengisi stadion, menegaskan bahwa rasa memiliki bersama dapat menjadi faktor penentu keberlangsungan sebuah tim di pasar yang kompetitif.

Di sisi lain, wacana politik di Inggris mengangkat kembali pertanyaan tentang kebangkitan fasisme. Artikel opini mengutip sejumlah tokoh yang mengekspresikan rasa “we” terancam—seperti Suella Braverman, Tommy Robinson, dan Nigel Farage—menunjukkan bagaimana kata tersebut dapat dipolitisasi untuk menumbuhkan rasa identitas eksklusif dan rasa ancaman terhadap kelompok lain. Narasi “we” dalam konteks ini menyoroti bahaya ketika kebersamaan dipakai sebagai alat eksklusi.

Jika dilihat secara holistik, penggunaan kata “we” mencerminkan dua pola utama: (1) solidaritas inklusif yang mempersatukan beragam pihak demi tujuan bersama, dan (2) eksklusivitas yang memisahkan “kita” dari “mereka” dalam konteks politik atau budaya. Pada contoh geopolitik, “we” menegaskan aliansi strategis melawan blok lawan; pada dunia olahraga, “we” menumbuhkan semangat tim dan dukungan fanatik; pada perdebatan politik, “we” dapat menimbulkan polarisasi.

Kesimpulannya, kata “we” bukan sekadar pronoun, melainkan alat retoris yang mampu menggerakkan massa, mengokohkan aliansi, atau memicu konflik. Memahami konteks penggunaannya menjadi penting bagi pengamat, pembuat kebijakan, dan masyarakat umum dalam menilai apakah narasi “we” tersebut bersifat membangun atau merusak.