Drama Selat Hormuz: Iran Buka, Tutup, dan Ketegangan AS Mengguncang Pasokan Energi Dunia

Politik28 Dilihat

Portal Muria – 19 April 2026 | Selat Hormuz, jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, menjadi nadi penting bagi sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Pada pertengahan April 2026, selat ini kembali menjadi pusat perhatian internasional setelah serangkaian keputusan yang berbalik‑balik antara Iran dan Amerika Serikat.

Pada hari Jumat, 17 April 2026, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengumumkan bahwa Selat Hormuz “sepenuhnya terbuka” untuk kapal komersial selama sisa masa gencatan senjata antara Israel‑Lebanon. Pengumuman itu disampaikan melalui akun resmi X, menegaskan bahwa jalur pelayaran akan diatur oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran. Sejumlah kapal pengangkut minyak, gas, serta barang kebutuhan dasar dilaporkan telah melintasi selat pada malam itu.

Namun, hanya beberapa jam kemudian, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) meluncurkan operasi blokade laut yang menargetkan pelabuhan‑pelabuhan Iran. Presiden Amerika Serikat Donald Trump, melalui platform Truth Social, menegaskan bahwa blokade akan tetap berlaku hingga “transaksi kami dengan Iran selesai 100 %”. Operasi tersebut melarang kapal‑kapal tanpa izin masuk atau keluar wilayah yang diblokir, kecuali kapal pengangkut makanan dan obat‑obatan yang harus melewati pemeriksaan ketat.

Respons Iran tidak memakan waktu lama. Pada Sabtu, 18 April 2026, Komando Militer Pusat Iran menyiarkan pernyataan bahwa Selat Hormuz kembali ditutup karena Washington “melanggar janji” blokade angkatan lautnya. Kalimat resmi menekankan bahwa “sampai Amerika Serikat memulihkan kebebasan bergerak untuk semua kapal yang mengunjungi Iran, situasi di Selat Hormuz akan tetap dikendalikan secara ketat.” Pernyataan ini dikutip oleh kantor berita AFP dan disiarkan di televisi pemerintah.

Militer AS memperkuat kehadirannya di sekitar selat. Citra satelit menampilkan kapal induk USS Abraham Lincoln berada di sebelah timur Teluk Oman, sekitar 200 km dari pantai Iran, bersama dua kapal perusak yang dilengkapi rudal kendali. Menurut laporan Reuters, angkatan laut AS juga menyiapkan operasi pembersihan ranjau di perairan selat untuk menjamin keamanan kapal sekutu.

Iran menegaskan kembali kontrolnya melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Pada hari yang sama, IRGC menyatakan bahwa Selat Hormuz kini berada di bawah “pengelolaan ketat” militer, menanggapi apa yang mereka sebut sebagai “pembajakan” berulang oleh Amerika Serikat. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga memperingatkan bahwa selat tidak akan tetap terbuka jika blokade terus berlanjut.

Reaksi internasional pun beragam. Pemerintah Tiongkok mengkritik blokade AS sebagai tindakan “tidak bertanggung jawab dan berbahaya”, menilai hal itu dapat melemahkan gencatan senjata yang rapuh serta mengancam keselamatan kapal. Beberapa kapal China berhasil melintasi selat, namun belum jelas apakah mereka harus membayar biaya tambahan kepada Tehran.

Dampak ekonomi global mulai terlihat. Penutupan selat kembali menimbulkan kekhawatiran pasar minyak, dengan harga Brent naik beberapa dolar per barel dalam hitungan jam. Negara‑negara pengimpor energi, khususnya di Asia, meningkatkan persediaan strategis sebagai antisipasi gangguan pasokan.

Secara keseluruhan, pergulatan di Selat Hormuz mencerminkan ketegangan geopolitik yang lebih luas antara Iran dan Amerika Serikat, sekaligus menyoroti peran strategis jalur laut ini dalam rantai pasokan energi dunia. Selama gencatan senjata antara Israel‑Lebanon masih berlangsung, masa depan keterbukaan Selat Hormuz tetap bergantung pada perkembangan diplomasi serta kemampuan kedua belah pihak untuk menegosiasikan solusi yang menghindari eskalasi militer lebih lanjut.