Mahasiswa Unand Terluka Parah Setelah Minibus Masuk Jurang di Lembah Anai, Tangan Patah dan Drama Evakuasi

Berita52 Dilihat

Portal Muria – 18 April 2026 | Jumat, 17 April 2026, sekitar pukul 04.00 WIB, sebuah minibus Toyota Innova Reborn yang melayani rute travel Pekanbaru‑Padang menabrak jurang di kawasan Lembah Anai, tepatnya di perbatasan Kabupaten Tanah Datar dan Padang Pariaman, Sumatra Barat. Kendaraan yang membawa tujuh penumpang ini tiba‑tiba kehilangan kendali saat melaju dari arah Bukittinggi, kemudian terperosok ke dasar jurang yang dalamnya diperkirakan lebih dari sepuluh meter.

Menurut keterangan Kanit Lakalantas Polres Padang Pariaman, Aiptu Welfin Zachky, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, namun semua penumpang termasuk sopir mengalami luka-luka. Salah satu penumpang yang paling terdampak adalah seorang mahasiswa Universitas Andalas (Unand) yang mengalami patah pada salah satu tangannya. Mahasiswa tersebut, yang sedang melakukan perjalanan pulang kampus, harus segera dilarikan ke Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Padang Panjang untuk mendapatkan perawatan ortopedi.

Berbagai video yang beredar di media sosial menunjukkan minibus dalam posisi terbalik di dasar jurang, dengan kerusakan struktural yang parah. Para penumpang terlihat tergeletak di luar kendaraan, sebagian di sisi kiri mobil yang terbalik. Tim SAR gabungan, yang terdiri dari Polri, pemadam kebakaran, dan relawan lokal, tiba di lokasi dalam hitungan menit setelah laporan diterima.

Berikut kronologi singkat yang berhasil diidentifikasi:

  • 04.00 WIB – Minibus melaju dari Bukittinggi menuju Padang.
  • 04.10 WIB – Kendaraan kehilangan kendali di tikungan tajam Lembah Anai dan menukik ke jurang.
  • 04.15 WIB – Tim SAR dikerahkan ke lokasi; evakuasi korban dimulai.
  • 04.30 WIB – Semua korban berhasil dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit terdekat.

Proses evakuasi memakan waktu sekitar satu setengah jam karena medan yang sulit dan posisi kendaraan yang terbalik. Tim SAR menggunakan tali penarik, perancah darurat, dan helikopter kecil untuk menurunkan peralatan medis ke dasar jurang. Setelah menstabilkan korban, mereka dipindahkan dengan menggunakan mobil ambulans ke rumah sakit di Padang Panjang, kemudian sebagian lagi dibawa ke RSUD Padang Pariaman.

Mahasiswa Unand yang mengalami patah tangan melaporkan rasa sakit hebat dan kehilangan kemampuan menggerakkan lengan secara normal. Dokter ortopedi di RS Islam Ibnu Sina menyatakan bahwa fraktur tersebut memerlukan operasi penempatan plat dan rehabilitasi intensif selama beberapa minggu. “Kami akan melakukan operasi sesegera‑mungkin, namun kondisi pasien stabil dan tidak ada tanda‑tanda komplikasi serius,” ujar dokter yang menangani.

Selain mahasiswa tersebut, empat penumpang lain mengalami luka memar, goresan, dan cedera ringan pada bagian kepala. Dua penumpang terakhir hanya mengalami luka ringan dan dipantau secara observasi. Semua korban kini berada dalam perawatan medis dan diperkirakan akan pulih dalam kurun waktu satu hingga tiga minggu, tergantung tingkat keparahan masing‑masing cedera.

Pihak kepolisian masih melanjutkan penyelidikan untuk mengidentifikasi penyebab pasti kehilangan kendali. Sementara itu, Welfin Zachky menegaskan bahwa tidak ada pelanggaran kecepatan yang terdeteksi, namun dugaan menghindari kendaraan lain di jalan sempit menjadi faktor utama. “Kami akan menelusuri rekaman CCTV dari titik-titik pengawasan di sekitar Lembah Anai serta memeriksa kondisi teknis kendaraan,” tambahnya.

Kecelakaan ini menimbulkan keprihatinan di kalangan masyarakat, khususnya mahasiswa Unand yang menuntut peningkatan standar keamanan pada layanan travel. Sejumlah organisasi kemahasiswaan Unand telah menyuarakan keprihatinan mereka melalui media sosial, menuntut audit keselamatan kendaraan travel yang melintas di jalur lintas provinsi.

Meski lalu lintas utama Padang‑Bukittinggi tetap beroperasi setelah proses evakuasi selesai, kejadian ini menjadi peringatan keras bagi semua pengguna jalan di wilayah pegunungan Sumatra Barat. Penegakan aturan keselamatan, pemeriksaan rutin kendaraan, dan edukasi pengemudi tentang bahaya menghindari kendaraan lain di jalur berkelok sangat diperlukan untuk mencegah tragedi serupa di masa depan.

Secara keseluruhan, kecelakaan ini menyoroti pentingnya kesiapsiagaan tim SAR, respons cepat layanan kesehatan, serta perlunya regulasi yang lebih ketat terhadap kendaraan travel. Diharapkan, langkah‑langkah perbaikan yang diusulkan akan meningkatkan keamanan bagi ribuan penumpang yang setiap hari melakukan perjalanan antar kota di Sumatra Barat.