Dirut RSHS Bandung Ungkap Distraksi Petugas yang Nyaris Tukar Bayi, Ibu Nina Saleha Gandeng Somasi dan Laporan Polisi

Berita37 Dilihat

Portal Muria – 18 April 2026 | Kasus bayi yang hampir tertukar di Rumah Sakit Umum Prof. Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung kembali menjadi sorotan publik setelah Direktur Utama rumah sakit, Rachim Dinata Marsidi, memberikan penjelasan resmi pada Jumat, 17 April 2026. Menurut Marsidi, insiden tersebut terjadi karena petugas yang menangani proses pemulangan bayi terdistraksi oleh permintaan lain dari orang tua pasien lain, sehingga hampir menyerahkan bayi milik Nina Saleha kepada orang yang salah.

Insiden dimulai pada 5 April 2026, ketika bayi berusia baru beberapa hari dirawat di Neonatal High Care Unit (NHCU) karena kondisi kuning pada beberapa bagian tubuh. Setelah tiga hari perawatan, kondisi bayi tersebut membaik dan dijadwalkan untuk dipulangkan pada 8 April. Pada hari itu, tim medis RSHS menghubungi ibu bayi, Nina Saleha, yang kemudian datang ke rumah sakit untuk mengambil anaknya.

Menurut keterangan Marsidi, saat petugas menyiapkan kebutuhan bayi untuk pulang, terdapat dua pasangan suami istri lain yang juga menunggu proses kepulangan anak mereka di ruangan yang sama. “Saat petugas kami sedang memberi edukasi dan melakukan identifikasi ulang terhadap bayi Ny. NS, petugas lain menerima pertanyaan dari orang tua lain mengenai asupan susu bayi mereka,” ujarnya. “Akibat distraksi tersebut, petugas secara tidak sengaja menyerahkan bayi Ny. NS kepada ibu pasien lain.”

Setelah penyadaran terjadi, tim rumah sakit segera mengambil kembali bayi tersebut dan mengamankan kembali di dalam ruangan. “Petugas kami kemudian mengambil susu untuk bayi Ny. NS, dan memastikan bayi kembali berada di bawah pengawasan kami sebelum menyerahkannya kepada Ibu Nina,” jelas Marsidi.

Sementara itu, Ibu Nina Saleha tidak tinggal diam. Didampingi kuasa hukum Mira Widyawati, ia melaporkan insiden tersebut ke Polda Jawa Barat dengan nomor register LP/B/684/IV/2026/SPKT. Laporan tersebut menuduh perawat berinisial N melanggar Pasal 450 dan Pasal 452 KUHP terkait tindak pidana penculikan karena dugaan penyerahan bayi kepada orang yang tidak berhak.

Tak hanya mengajukan laporan polisi, Nina dan tim hukumnya juga mengirimkan somasi kepada pihak RSHS, menuntut transparansi dan keterbukaan dalam proses investigasi. “Kami merasa tidak ada itikad baik dari rumah sakit dalam mengungkap kronologi kejadian ini, sehingga langkah hukum menjadi pilihan terakhir,” ujar Mira Widyawati dalam pernyataan resmi.

Menanggapi somasi tersebut, pihak manajemen RSHS menyatakan akan melakukan evaluasi internal serta menonaktifkan sementara perawat yang terlibat untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut. “Kami berkomitmen menelusuri penyebab insiden secara menyeluruh, sekaligus memperkuat prosedur verifikasi identitas bayi sebelum penyerahan kepada orang tua,” kata juru bicara rumah sakit.

Kasus ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai standar operasional prosedur (SOP) di unit perawatan intensif neonatal, terutama dalam hal koordinasi antara tim medis dan layanan administrasi. Para ahli kesehatan mengingatkan pentingnya penerapan sistem ganda verifikasi, seperti penggunaan gelang identitas elektronik yang terhubung dengan data elektronik pasien.

Para pengamat hukum menilai bahwa laporan polisi dan somasi dapat mempercepat proses penyelidikan, namun menekankan perlunya bukti kuat untuk menuntut pertanggungjawaban pidana. “Jika terbukti ada kelalaian yang mengakibatkan risiko kehilangan atau pertukaran bayi, maka pasal penculikan dapat diterapkan,” ujar seorang praktisi hukum yang meminta disebutkan namanya.

Di sisi lain, publik memberi respon beragam di media sosial. Sebagian mengapresiasi keberanian Ibu Nina menuntut keadilan, sementara yang lain menuntut perbaikan sistem secara menyeluruh untuk mencegah kejadian serupa. #RSHS #BayiNyarisTertukar #Somasi #PolisiJabar

Proses hukum kini berada di tangan penyidik Polda Jawa Barat. Pihak rumah sakit diharapkan dapat memberikan semua dokumen dan rekaman CCTV yang relevan. Sementara itu, Ibu Nina Saleha menegaskan akan menunggu hasil penyelidikan demi kepastian bagi keluarganya dan agar kasus ini menjadi pelajaran bagi institusi kesehatan lainnya.