Portal Muria – 18 April 2026 | Jakarta, 18 April 2026 – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa Indonesia telah berhasil mengamankan pasokan minyak mentah (crude) dari Rusia. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, setelah serangkaian pertemuan diplomatik dengan pejabat energi Rusia dan Presiden Vladimir Putin.
Bahlil menjelaskan bahwa kesepakatan tersebut meliputi dua skema utama: kerja sama Government-to-Government (G to G) dan Business-to-Business (B to B). Kedua bentuk kerjasama ini dirancang untuk menjamin ketersediaan minyak mentah selama setahun, mulai bulan April 2026 hingga Desember 2026. Menurutnya, langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengamankan pasokan energi nasional di tengah dinamika pasar global.
Meski menolak mengungkapkan volume dan harga secara detail, Bahlil menegaskan bahwa harga yang diperoleh berada di bawah atau setidaknya tidak melebihi harga pasar internasional. “Kami tidak boleh membayar lebih dari harga pasar. Harga di bawah pasar jauh lebih baik, namun minimal sama dengan harga pasar,” ujarnya. Kebijakan ini diharapkan dapat menurunkan beban impor dan menstabilkan harga bahan bakar di dalam negeri.
Dalam rapat kerja dengan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev di Moskow pada 14 April 2026, Bahlil menegaskan komitmen kedua negara untuk meningkatkan cadangan energi Indonesia. Rusia tidak hanya akan memasok crude, tetapi juga bersedia berinvestasi dalam pembangunan infrastruktur energi, termasuk fasilitas penyimpanan dan jaringan distribusi yang dapat memperkuat ketahanan energi nasional.
- Pasokan crude diperkirakan mulai dikirim pada bulan April 2026.
- Kerja sama mencakup investasi Rusia dalam infrastruktur energi Indonesia.
- Harga dijamin tidak melebihi harga pasar internasional.
- Kesepakatan bersifat jangka panjang, mencakup satu tahun penuh.
Penambahan pasokan minyak mentah dari Rusia menjadi bagian dari strategi diversifikasi sumber energi Indonesia. Saat ini, negara ini mengimpor hingga satu juta barel minyak per hari, dengan kebutuhan tahunan mencapai sekitar 300 juta ton. Sebelumnya, mayoritas impor berasal dari Timur Tengah dan Amerika Serikat. Diversifikasi ini dianggap penting untuk mengurangi ketergantungan pada satu wilayah sumber dan mengantisipasi gejolak geopolitik, seperti konflik di Timur Tengah yang dapat mengganggu pasokan global.
Selain minyak mentah, Bahlil juga menyampaikan bahwa negosiasi mengenai pasokan LPG dari Rusia sedang dalam tahap finalisasi. Proyeksi kebutuhan LPG Indonesia pada 2026 mencapai 10 juta ton, sementara produksi domestik hanya sekitar 1,6 juta ton. Oleh karena itu, impor LPG menjadi krusial, dan Rusia dipandang sebagai alternatif strategis selain pemasok tradisional dari Amerika Serikat.
Langkah diplomasi energi ini bermula dari kunjungan resmi Presiden Prabowo Subianto ke Kremlin pada 13 April 2026, di mana kedua pemimpin menandatangani nota kesepahaman untuk meningkatkan kerja sama energi. Bahlil, yang mendampingi Presiden, melanjutkan pembicaraan dengan pejabat energi Rusia dan memastikan rincian teknis serta komersial kesepakatan.
Di dalam negeri, Menteri ESDM menekankan pentingnya meningkatkan kapasitas produksi dalam kilang domestik untuk menyerap pasokan crude tambahan. “Kita harus meningkatkan produksi di kilang kita, sehingga pasokan yang masuk dapat diolah secara optimal,” ujarnya. Pemerintah juga berencana memperkuat kebijakan stabilisasi harga bahan bakar dengan memanfaatkan cadangan strategis dan mekanisme penyesuaian tarif energi.
Penguatan hubungan energi Indonesia‑Rusia diharapkan dapat membuka peluang investasi lebih luas, termasuk proyek pengolahan minyak, pembangunan terminal penyimpanan, dan pengembangan teknologi pemurnian. Bahlil menambahkan bahwa kerjasama ini sejalan dengan prinsip politik bebas aktif Indonesia, yang memungkinkan negara untuk menjalin hubungan ekonomi dengan semua pihak asalkan mengutamakan kepentingan nasional.
Dengan langkah ini, pemerintah menegaskan komitmen menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global. Pasokan minyak mentah yang stabil, harga kompetitif, serta dukungan investasi infrastruktur diharapkan dapat menurunkan beban impor, menstabilkan harga BBM, dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.













