Portal Muria – 17 April 2026 | Setelah diputuskan tidak lagi menjadi bagian dari skuad Green Force pada awal musim 2025/2026, penyerang asal Portugal, Flavio Silva, menemukan kembali kejayaannya bersama Kaizer Chiefs di Liga Premier Afrika Selatan. Performa tajamnya di luar negeri menjadi sorotan tajam mengingat lini depan Persebaya Surabaya masih terpuruk dan belum mampu mencetak gol secara konsisten.
Sejak resmi bergabung dengan Kaizer Chiefs pada 1 Juli 2025, Silva telah menorehkan sembilan gol dan satu assist dalam 25 penampilan. Dari total tersebut, enam gol dan satu assist diraih dalam 15 pertandingan musim 2025/2026, menunjukkan rasio gol per pertandingan yang jauh lebih efisien dibandingkan masa baktinya di Surabaya, di mana ia membutuhkan 33 laga untuk mencetak sembilan gol dan dua assist.
Statistik lengkap penampilan Silva dapat dilihat pada tabel berikut:
| Tim | Musim | Pertandingan | Gol | Assist |
|---|---|---|---|---|
| Persebaya Surabaya | 2024/2025 | 33 | 9 | 2 |
| Kaizer Chiefs | 2025/2026 | 25 | 9 | 1 |
Keberhasilan Silva di Afrika Selatan bukan sekadar angka. Penampilannya yang lebih percaya diri dan klinis dalam menyelesaikan peluang membuatnya menjadi ancaman utama bagi pertahanan lawan. “Main bagus, tiga poin, cetak gol, istirahat bagus, besok lagi,” tulis Silva di akun Instagram pribadinya, menegaskan semangat positif yang kini ia rasakan.
Sementara itu, Persebaya Surabaya, yang dikenal dengan julukan Green Force, terus bergulat dengan masalah produksi gol. Pada pekan ke-27 Super League Indonesia 2025/2026, tim asuhan Bernardo Tavares harus menelan kekalahan 0-3 dari Persija Jakarta di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Selama laga tersebut, Persebaya mencatat sepuluh percobaan tembakan, namun tidak satupun yang tepat sasaran. Statistik tersebut menegaskan kegagalan lini depan, terutama setelah kepergian Silva.
Duet Bruno Paraiba dan Mihailo Perovic yang diharapkan menjadi solusi belum mampu mengatasi kebuntuan. Pelatih Bernardo Tavares menyoroti faktor mental sebagai penyebab utama, mengingat gol cepat Persija membuat pemain Green Force kehilangan fokus.
Tak hanya di lapangan, dinamika internal klub juga muncul. Pada pertandingan imbang 0-0 melawan Semen Padang di Stadion H. Agus Salim, Flavio Silva kembali menjadi sorotan karena kegagalannya mengeksekusi peluang emas pada menit ke-90. Meskipun tim menekan sejak babak pertama, penyelesaian akhir tetap menjadi masalah utama.
Setelah kegagalan tersebut, Silva menuliskan pernyataan singkat di media sosial: “Failures can not define who you are. Disappointed but there is no time for crying or regret. Focus for the next one. We move on,” disertai emotikon ikan hiu, buaya, dan hati hijau. Dukungan moral datang dari rekan senegaranya, Vitor Barata, yang menulis di kolom komentar Instagram, “É grande irmão,” yang berarti “Kamu hebat, saudara.”
Vitor Barata, gelandang asal Brazil yang saat ini bermain bersama Persebaya, menyatakan dukungan penuh kepada Silva, meski keduanya kini berada di klub yang berbeda. Barata menekankan pentingnya semangat persaudaraan di antara pemain, terutama ketika menghadapi tekanan publik.
Persepsi publik terhadap kepergian Silva pun terbagi. Sebagian penggemar mengkritik manajemen Persebaya yang dinilai gagal memanfaatkan potensi striker Portugal tersebut, sementara yang lain menganggap keputusan pemutusan kontrak sebagai langkah strategis untuk memperbaiki dinamika tim. Namun, fakta bahwa Silva kini menjadi ancaman utama di liga asing menambah beban kritis bagi manajemen Green Force.
Dengan performa Silva yang terus menguat, Kaizer Chiefs berpeluang menambah poin penting di papan klasemen Liga Premier Afrika Selatan. Di sisi lain, Persebaya Surabaya harus segera menemukan alternatif penyerang yang mampu mengisi kekosongan produksi gol. Pilihan pengganti, taktik baru, atau bahkan perubahan manajerial menjadi opsi yang tidak dapat dihindari bila Green Force ingin kembali bersaing di puncak klasemen.
Kesimpulannya, kepergian Flavio Silva bukan hanya sekadar transfer pemain, melainkan simbol pergeseran kekuatan di antara dua liga. Sementara Silva menikmati momentum baru di Afrika, Persebaya Surabaya harus merespons dengan perencanaan strategis yang lebih matang untuk mengatasi krisis penyerang mereka.








