Skandal di Miami: Messi Dituduh Penipuan, Terancam Denda Rp112 Miliar

Olahraga26 Dilihat

Portal Muria – 16 April 2026 | Seorang promotor acara hiburan yang berbasis di Miami, VID Music Group, menggugat Lionel Messi beserta Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) di pengadilan wilayah Miami‑Dade. Gugatan tersebut menuduh Messi melanggar kontrak bernilai jutaan dolar dengan mengabaikan kewajiban bermain dalam dua laga persahabatan internasional yang dijadwalkan pada Oktober 2025. Jika terbukti bersalah, Messi dapat dikenai denda setara Rp112 miliar, sesuai dengan estimasi kerugian komersial yang diungkapkan oleh pihak penggugat.

Kontrak yang ditandatangani pada musim panas 2024 memberi VID hak eksklusif untuk mengatur, mempromosikan, dan menjual tiket serta hak siar dua laga uji coba Timnas Argentina melawan Venezuela dan Puerto Riko. Salah satu syarat utama adalah kehadiran Messi di lapangan minimal 30 menit per pertandingan, kecuali terjadi cedera. VID menilai kehadiran sang bintang sebagai komponen vital yang memengaruhi nilai jual tiket, sponsor, dan hak siar televisi. Tanpa partisipasi Messi, penjualan tiket diproyeksikan turun drastis, mengakibatkan kerugian yang diklaim mencapai jutaan dolar.

Masalah muncul ketika Messi tidak tampil dalam pertandingan melawan Venezuela pada 10 Oktober 2025. Menurut dokumen pengadilan, pemain berusia 38 tahun itu hanya menyaksikan pertandingan dari ruang VIP di Hard Rock Stadium, Florida Selatan. Keputusan tersebut menimbulkan pertanyaan mengapa Messi mengabaikan kewajiban kontrak, mengingat ia baru saja mencetak dua gol untuk Inter Miami dalam laga MLS melawan Atlanta pada hari sebelumnya. Sehari setelah absen, Messi kembali tampil bersama Timnas Argentina dalam pertandingan melawan Puerto Riko, mencetak enam gol dan memastikan kemenangan telak 6‑0.

VID Music Group menegaskan bahwa kegagalan Messi muncul bukan karena cedera, melainkan keputusan pribadi yang merugikan pihak promotor. Dalam pernyataannya, penasihat hukum Ralph Patino menyebut, “Partisipasi Messi merupakan syarat penting dalam perjanjian, menjadi komponen utama kontrak dan berkaitan langsung dengan kelayakan komersial pertandingan.” Sementara itu, AFA belum memberikan komentar resmi, dan Messi sendiri juga belum mengeluarkan pernyataan terkait tuduhan penipuan dan pelanggaran kontrak.

Berikut poin‑poin utama yang menjadi fokus gugatan:

  • Kontrak eksklusif antara VID Music Group dan AFA untuk dua laga persahabatan pada Oktober 2025.
  • Kewajiban Messi bermain minimal 30 menit per pertandingan, kecuali cedera.
  • Absennya Messi pada laga melawan Venezuela, yang berdampak pada penurunan penjualan tiket dan sponsor.
  • Kerugian komersial yang diperkirakan mencapai jutaan dolar, setara dengan denda Rp112 miliar.
  • Tidak ada respons resmi dari Messi maupun AFA hingga saat ini.

Kasus ini muncul di tengah performa impresif Messi bersama Timnas Argentina di kualifikasi Piala Dunia 2026, dimana ia mencetak tiga gol melawan Bolivia dan terus menjadi magnet penonton baik di level klub Inter Miami maupun tim nasional. Kehadiran Messi di setiap laga biasanya memicu lonjakan harga tiket, sehingga dampak finansial dari absennya menjadi isu serius bagi promotor.

Jika gugatan berlanjut dan pengadilan memutuskan mendukung klaim VID, konsekuensi hukum dan reputasi Messi dapat terpengaruh secara signifikan. Selain potensi denda yang besar, kasus ini dapat memicu diskusi lebih luas tentang hak pemain, kewajiban kontraktual, dan perlindungan komersial dalam dunia sepak bola internasional. Sementara itu, para penggemar dan pihak media terus memantau perkembangan kasus, menanti klarifikasi resmi dari pihak terkait.

Kesimpulannya, skandal hukum yang melibatkan Lionel Messi di Miami menyoroti ketegangan antara kepentingan komersial promotor acara dan hak pribadi pemain. Dengan denda yang diperkirakan mencapai Rp112 miliar, kasus ini tidak hanya menambah beban finansial bagi Messi, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana kontrak sepak bola elite dikelola di era globalisasi olahraga.