Dari Dawet ke Solidaritas: Lahirnya “Dawet Reborn” di Tambahmulyo Pati

Berita, Pati814 Dilihat

PATI, PortalMuria.com — Di tengah stigma negatif yang kerap melekat pada kelompok anak muda, sekelompok pemuda dari Desa Tambahmulyo, Kecamatan Gabus, justru memilih jalan berbeda. Mereka menamakan diri Dawet Reborn, sebuah komunitas sederhana yang lahir dari kebiasaan nongkrong sambil menikmati minuman tradisional, dawet.

Komunitas ini beranggotakan 12 orang pemuda, tanpa struktur organisasi formal, bahkan tanpa sosok ketua. Namun justru dari kesederhanaan itulah, kekuatan mereka tumbuh.

“Dari awal memang tidak ada niat membentuk organisasi resmi. Semua berjalan alami, dari kebersamaan,” ujar salah satu anggota.

Tidak seperti komunitas pada umumnya, Dawet Reborn berjalan tanpa hierarki. Tidak ada jabatan, tidak ada pembagian kekuasaan. Semua anggota memiliki peran yang sama.

Dalam setiap pertemuan, mereka berbagi cerita, pengalaman hidup, hingga saling menguatkan satu sama lain. Dari sinilah, rasa kekeluargaan tumbuh kuat, melampaui sekadar tongkrongan biasa.

Kehangatan yang tercipta menjadi fondasi utama komunitas ini. Tidak ada kepentingan pribadi, tidak ada ambisi untuk popularitas, namun yang ada hanya kebersamaan.

Siapa sangka, kebiasaan sederhana itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar. Dawet Reborn mulai menginisiasi berbagai kegiatan, mulai dari liburan bersama hingga menggelar acara privat.

Puncaknya, mereka sukses mengadakan sebuah event di Omah Kuno dengan menghadirkan grup orkes lawas ternama, Camelia Music, yang dikenal luas di wilayah eks-Karesidenan Pati, Kudus, Jepara, hingga Rembang.Rabu (25/3/2026).

Sejumlah pemuda yang tergabung dalam komunitas Dawet Reborn tampak menikmati suasana hiburan musik saat menggelar acara privat di Omah Kuno.

Menggelar acara dengan menghadirkan grup musik populer tentu bukan perkara mudah. Dibutuhkan anggaran besar dan koordinasi matang. Namun, Dawet Reborn membuktikan bahwa semua itu bisa dicapai secara mandiri.

Tanpa sponsor besar, tanpa campur tangan pihak luar, acara tersebut berlangsung sukses dan lancar.

Di tengah maraknya geng motor yang kerap meresahkan masyarakat, Dawet Reborn justru hadir sebagai antitesis. Mereka ingin menunjukkan bahwa anak muda juga bisa menjadi kekuatan positif bagi lingkungan.

Komunitas ini tidak mencari ketenaran. Tidak pula mengejar pengakuan. Mereka hanya ingin membuktikan satu hal sederhana: bahwa kebersamaan yang sehat bisa melahirkan sesuatu yang berarti.

“Kami ingin menunjukkan bahwa masih ada anak muda yang bisa membawa dampak baik,” ungkap anggota lainnya.

Dawet Reborn menjadi contoh bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Dari segelas dawet dan obrolan santai, lahir sebuah komunitas yang solid, mandiri, dan inspiratif.

Di tengah arus modernisasi dan individualisme, semangat kolektif seperti ini menjadi oase. Sebuah pengingat bahwa nilai kebersamaan masih hidup, bahkan tumbuh kuat di kalangan anak muda desa.

Jika terus dijaga, bukan tidak mungkin Dawet Reborn akan menjadi inspirasi bagi komunitas serupa di berbagai daerah.

(Red.)