Pelajar Jepara Ikuti Kelas Mengukir, Menjaga Warisan Seni Ukir Menuju Panggung Dunia

Berita, Jepara1063 Dilihat

JEPARA – PortalMuria.com | Sebanyak 29 siswa SMA dan SMK di Kabupaten Jepara mengikuti Kelas Pelajar Mengukir Angkatan VI yang digelar di Galeri Yayasan Pelestari Ukir (Peluk) Jepara, kawasan Pantai Kartini. Program ini menjadi ikhtiar konkret menjaga denyut seni ukir Jepara agar tetap hidup di tengah gempuran modernisasi.

Para peserta berasal dari SMAN 1 Donorojo, SMAN 1 Mlonggo, SMAN 1 Jepara, SMAN 1 Tahunan, serta SMK Islam Tsamrotul Huda Kecapi. Mereka dipertemukan langsung dengan para maestro dan pegiat ukir yang telah lama bergelut di jalur pelestarian budaya.

Kelas ini diampu oleh instruktur dari berbagai komunitas ukir Jepara, antara lain Yayasan Peluk, Paguyuban Pengukir Sungging Prabangkara, dan Paguyuban Pengukir Perempuan R.A Kartini. Nama-nama seperti Sutrisna S.Pd, Drs Suyoto, Istiyanto S.Pd.I, hingga Rumini, juara ukir kategori perempuan Kabupaten Jepara 2024 sekaligus peraih Kartini Awards bidang Pelestari Seni Ukir, menjadi pengajar sekaligus inspirasi bagi peserta.

Kolaborasi lintas generasi ini tak sekadar mengajarkan teknik, tetapi juga menanamkan nilai, ketekunan, dan kebanggaan terhadap seni ukir sebagai identitas Jepara.

Pelaksanaan kelas di kawasan Pantai Kartini, yang dikenal sebagai pintu masuk wisata Karimunjawa, mendapat apresiasi dari pegiat budaya Jepara Fakrudin atau Kang Brodin.

“Lokasi ini strategis. Selain menyemai kecintaan anak-anak pada seni ukir, juga efektif mempromosikan budaya Jepara kepada wisatawan,” ujarnya.

Senada, pelaku wisata Teni Swastika dari Home Stay Omah Laut Bondo optimistis Galeri Yayasan Pelestari Ukir Jepara dapat berkembang lebih besar jika dikelola dengan baik dan memiliki jejaring luas, sehingga manfaatnya terasa langsung bagi daerah.

Mengusung tema “Merajut Asa Melestarikan Seni Ukir Jepara”, kegiatan ini memiliki misi yang lebih dalam dari sekadar pelatihan teknis. Ketua Umum Yayasan Pelestari Ukir Jepara, Hadi Priyanto, menegaskan bahwa tujuan utama program ini adalah menanamkan rasa cinta.

“Kami tidak hendak menjadikan Anda sebagai perajin ukir. Kami ingin kalian mencintai seni ukir,” tegas Hadi di hadapan peserta.

Ia mengingatkan bahwa seni ukir Jepara telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2016, dan kini tengah diupayakan untuk naik kelas menjadi Warisan Budaya Dunia.

Upaya internasionalisasi seni ukir Jepara, lanjut Hadi, turut diinisiasi oleh Bupati Jepara Witiarso Utomo bersama Wakil Ketua MPR RI, Dr Lestari Moerdijat. Langkah ini menjadi bukti bahwa seni ukir bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi aset strategis masa depan.

Galeri Jepara Wood Carving di Pantai Kartini pun dirancang sebagai ruang belajar terbuka, tidak hanya bagi warga Jepara, tetapi juga wisatawan yang berkunjung ke Karimunjawa. Minat wisatawan terhadap seni ukir dinilai tinggi, bahkan sebagian telah rutin mengikuti Kelas Mengukir bagi Wisatawan.

Ke depan, galeri ini juga direncanakan menampilkan karya cinderamata berbahan limbah kayu. Hadi berharap para perajin ukir Jepara semakin kreatif, tidak hanya bekerja berdasarkan pesanan, tetapi mampu menciptakan karya bernilai ekonomi tinggi.

“Limbah pun bisa menjadi karya. Di situlah kreativitas dan masa depan seni ukir Jepara,” pungkasnya.

(Red.)