Jateng Kebut Pembangunan 10 Embung 2025, Perkuat Lumbung Pangan Nasional dan Selamatkan Petani dari Krisis Air

JAWA TENGAH376 Dilihat

SEMARANG, PortalMuria.com — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tancap gas mempercepat pembangunan infrastruktur pertanian pada 2025. Targetnya jelas: menjadikan Jawa Tengah sebagai penyangga utama pangan nasional sekaligus memperkokoh ketahanan pangan di wilayah yang kerap terdampak kekeringan.

Salah satu langkah paling strategis adalah pembangunan 10 embung di berbagai daerah. Dari jumlah tersebut, delapan embung dibangun baru, sementara dua lainnya direhabilitasi. Embung-embung ini menjadi tumpuan baru untuk memperkuat irigasi, menjaga suplai air, dan mengangkat produktivitas lahan pertanian.

Kepala Dinas Pusdataru Jateng, Henggar Budi Anggoro, menegaskan bahwa tahun 2025 menjadi momentum percepatan pembangunan infrastruktur air.

“Total anggaran ada Rp118 miliar terbagi dalam 24 paket pekerjaan di 2025. Di dalamnya terdapat pembangunan delapan embung baru dan dua rehab,” jelasnya, Kamis (13/11/2025).

Menurut Henggar, proyek ini sejalan dengan visi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin, yang menekankan penguatan infrastruktur pertanian secara berkelanjutan.

  • Daftar Embung Baru 2025
  • Embung Salam (10.916,50 m³)
  • Embung Selur (25.693,75 m³)
  • Embung Rondo Kuning (24.292,5 m³)
  • Embung Geblok (6.450 m³)
  • Embung Karangjati (70.875 m³)
  • Embung Kemurang Wetan (12.468 m³)
  • Embung Tegal Wulung (10.747 m³)
  • Embung Plosorejo (25.145 m³)

“Kami pastikan seluruh proyek infrastruktur tersebut tuntas pada 2025,” tegas Henggar.

Salah satu pembangunan yang saat ini paling menonjol adalah Embung Kemurang Wetan di Kecamatan Tanjung, Kabupaten Brebes. Progresnya sudah mencapai 80 persen.

Kepala Desa Kemurang Wetan, Dustam, menyebut embung ini menjadi penolong utama petani bawang merah yang selama ini berjibaku dengan kekeringan.

“Kalau kemarau, petani bawang merah di sini sering kesulitan air. Masa tanam biasanya hanya dua kali. Adanya embung ini sangat membantu,” tuturnya.

Menurutnya, daya tampung embung tersebut mampu menyuplai air untuk lebih dari 40 hektare sawah.

Para petani juga menyambut gembira pembangunan embung tersebut. Sukim, salah satu petani bawang, mengaku kini lebih optimis memasuki musim kemarau.

“Ya senang, jadi tidak kesulitan air lagi saat kemarau,” ungkapnya.

Ia bercerita, sebelumnya banyak petani enggan menanam karena harus mengambil air dari sungai dengan biaya mahal.

“Biayanya tinggi kalau ambil air dari sungai. Jadi banyak yang tidak tanam,” katanya.

Namun kini, setelah embung hampir rampung, semangat petani mulai tumbuh kembali.
“Jadi lebih bersemangat bertani,” tandas Sukim.

(Red.)