RIYADH, ARAB SAUDI, PortalMuria.com —
Langit Riyadh kembali menjadi saksi kiprah luar biasa seniman muda asal Pati, Jawa Tengah. Huda Purnawadi, nama yang sudah tak asing di dunia kaligrafi internasional, kembali menorehkan tinta emas setelah meraih Juara 1 lomba kaligrafi spontan tingkat internasional dalam ajang Prince Mohammed bin Salman Center for Arabic Calligraphy Initiative Competition 2025, kategori Diwani Jali.
Ini bukan kemenangan pertama bagi Huda. Sebelumnya, ia juga berhasil menjadi terbaik 1 dalam lomba serupa di Doha, Qatar, pada kategori Sulus Jali. Dua kategori berbeda, dua medan yang sama-sama menantang, namun keduanya berhasil ditaklukkan dengan tangan dan hati yang sama: tangan seorang seniman sejati, dan hati yang penuh tawakal.
“Alhamdulillah, هذا من فضل ربي (ini semata-mata karunia dari Tuhanku),” ucap Huda penuh syukur.
Kompetisi di Riyadh ini bukan lomba biasa. Selama tiga hari berturut-turut, Huda dan peserta lain harus menulis tiga karya berbeda dengan ayat yang ditentukan langsung oleh panitia. Setiap hari, mereka diberi waktu lima jam untuk menyelesaikan satu karya di tempat.

Tidak ada latihan sebelumnya, tidak ada akses ponsel, bahkan peserta tidak tahu siapa juri yang menilai. Semua proses dari menulis, penjurian, hingga hasil akhir, direkam dalam video untuk menjamin transparansi.
“Jangan samakan dengan lomba di Indonesia,” tegas Huda.
“Sekilas memang sama-sama spontan, tapi sistemnya sangat berbeda. Di sini, semuanya terukur — dari tarkib, tanfiz, kaidah, hingga finishing dan tartis. Menulis di atas muqohhar juga jauh lebih sulit daripada kertas karton.”
Menurut Huda, lomba di Arab Saudi bukan hanya soal keindahan tulisan, tapi penguasaan ilmu dan kedisiplinan dalam sistem penulisan Arab klasik.
“Bisa menulis belum tentu bisa tartis. Banyak yang bisa tartis, tapi tulisannya biasa saja. Yang benar-benar sulit adalah mereka yang bisa menulis indah sekaligus tartis sempurna, itulah yang luar biasa,” jelasnya.
Huda Purnawadi, adalah sosok pemuda asal Gembong, Kabupaten Pati, kini menjadi salah satu wajah muda Indonesia yang konsisten mengangkat derajat seni kaligrafi di mata dunia.
Dengan dua gelar juara internasional di tangan, Qatar dan Arab Saudi, ia membuktikan bahwa seni Islam bukan sekadar tulisan indah, tetapi cermin dari keikhlasan dan ilmu yang mendalam.
“Yang terpenting bukan sekadar rempet atau rapatnya tulisan, tapi bagaimana karya itu tetap mudah dibaca dan punya ruh,” ujarnya menutup dengan rendah hati.
(Red.)








