Pati , PortalMuria.com – Perayaan Tradisi Meron di Kecamatan Sukolilo, Sabtu (6/9/2025), mendadak terasa seperti panggung kampanye terselubung. Bupati Pati, Sudewo, yang hadir dalam acara sakral itu, bukan hanya bicara soal makna budaya, tapi juga meluncurkan sederet klaim pembangunan jalan di wilayah Sukolilo dan sekitarnya.
“Tradisi Meron ini lahir dari perjalanan sejarah Kerajaan Mataram dan Kabupaten Pati. Nilai-nilainya sangat penting, yakni memperkuat persatuan, menjaga kedamaian, menumbuhkan semangat gotong royong, serta menggerakkan roda perekonomian masyarakat,” ucap Sudewo dalam sambutannya.
Namun, yang membuat publik terperangah, Sudewo langsung mengaitkan doa dan ritual budaya dengan proyek infrastruktur yang ia sebut sebagai “berkah Meron.” Ia merinci jalan Sukolilo–Prawoto, Sukolilo–Tompe Gunung, hingga Kayen–Sukolilo yang dijanjikan akan mulus pada 2026.
Meron Jadi Alat Legitimasi Politik?
Pernyataan Sudewo memicu pertanyaan publik: apakah perayaan adat benar-benar dihormati sebagai pusaka budaya, atau sekadar dijadikan panggung untuk meneguhkan citra politik dan legitimasi kekuasaan?
Salah satu pengamat lokal bahkan menyindir, “Kalau doa Meron bisa bikin jalan mulus, lalu anggaran miliaran rupiah itu untuk apa?” Kritik semacam ini menggambarkan kecurigaan bahwa narasi budaya tengah dipelintir demi membungkus janji politik.
Tradisi vs Janji
Warga Sukolilo sejatinya berharap Meron tetap dipandang sebagai tradisi religius dan budaya, bukan sekadar kesempatan pemerintah daerah untuk mempromosikan proyek pembangunan. Apalagi, janji “seluruh jalur Kayen–Sukolilo lebar dan mulus pada 2026” dinilai terlalu manis untuk langsung ditelan mentah-mentah.
Meron memang bukan sekadar pesta rakyat, tapi juga simbol perlawanan sejarah dan kekuatan gotong royong. Jika kini tradisi itu dipakai sebagai etalase proyek infrastruktur, maka ada risiko sakralitasnya tereduksi hanya menjadi jargon politik.
Akhir Kata
Bupati Sudewo menutup pidatonya dengan doa agar Meron membawa “berkah dan barokah.” Namun, publik menunggu bukti nyata: apakah yang datang benar-benar berkah, atau justru janji-janji yang menyisakan tanda tanya?
(Red.)








