Menembus Rel Kereta, Erlangga 4 Jam Perjalanan Jadi Bintang Persebaya Academy

Olahraga46 Dilihat

Portal Muria – 17 April 2026 | Erlangga, pemuda asal Jawa Tengah yang bermimpi menjadi pemain sepak bola profesional, mengubah perjalanan harian yang menantang menjadi bahan bakar semangat. Setiap pagi, ia menumpangi gerbong kereta api selama empat jam, menempuh jarak ribuan kilometer dari kampungnya di daerah pedesaan hingga ke markas Persebaya Academy di Surabaya.

Perjalanan yang melelahkan itu bukan sekadar soal jarak, melainkan juga tentang disiplin mental. Selama berada di kereta, Erlangga mengisi waktu dengan latihan teknik dasar, menonton rekaman pertandingan, serta membaca buku taktik sepak bola. Ia mengaku, setiap deru mesin dan goyangan gerbong menjadi latar belakang bagi visualisasi gerakan di lapangan.

Tekadnya berawal ketika ia menonton tim kebanggaan keluarga, Persebaya Surabaya, mengukir kemenangan di Liga 1. Momen itu menyalakan api keinginan untuk bergabung dengan akademi yang telah melahirkan banyak bintang nasional. Tanpa dukungan finansial yang memadai, ia memutuskan mengandalkan transportasi umum paling terjangkau—kereta api.

Rute yang dipilih melewati stasiun‑stasiun kecil, menembus pegunungan, dan melintasi sawah luas. Selama empat jam, Erlangga harus menyesuaikan jadwal latihan di akademi yang dimulai pukul 08.00 pagi. Ia turun di Stasiun Gubeng, berlari menuruni trotoar, lalu menempuh tiga kilometer terakhir dengan sepeda motor sewaan. Setiap langkah diukur dengan ketat, karena keterlambatan berarti kehilangan sesi latihan penting.

Di dalam Persebaya Academy, pelatih kepala menilai Erlangga sebagai pemain dengan potensi tinggi namun membutuhkan kebugaran fisik yang optimal. Meskipun demikian, kerja kerasnya di luar lapangan tidak luput dari perhatian. Ia menjadi contoh bagi rekan-rekan setim tentang pentingnya ketekunan, terutama bagi mereka yang datang dari latar belakang sederhana.

Selain menempuh jarak jauh, Erlangga harus mengatasi tantangan lain, seperti cuaca ekstrem, kebisingan kereta, serta keterbatasan fasilitas selama perjalanan. Namun, ia menjadikan setiap rintangan sebagai pelajaran. “Setiap kali kereta bergetar, saya belajar menstabilkan tubuh, seperti saat mengontrol bola di lapangan,” ujarnya dalam sebuah wawancara.

Kisah Erlangga tidak hanya menginspirasi pemain muda, tetapi juga menarik perhatian publik media sosial. Video perjalanan harian yang diunggah di platform video memperoleh ribuan tampilan, menambah dukungan moral dan moralitas bagi sang pemuda. Beberapa sponsor lokal pun menawarkan bantuan peralatan latihan sebagai bentuk apresiasi.

Persepsi masyarakat terhadap sepak bola di daerah pedesaan semakin positif berkat contoh Erlangga. Sekolah‑sekolah setempat kini mengintegrasikan program sepak bola dalam kurikulum ekstrakurikuler, berharap dapat menumbuhkan lebih banyak talenta yang siap menapaki jalur profesional.

Keberhasilan awalnya terlihat ketika Erlangga berhasil masuk skuad U‑19 Persebaya dan mencatatkan dua gol dalam pertandingan persahabatan melawan klub rival. Pencapaian ini menegaskan bahwa dedikasi dan kerja keras dapat mengatasi keterbatasan geografis.

Dengan komitmen yang tak tergoyahkan, Erlangga berencana terus melanjutkan pendidikan formal sambil mengejar karier sepak bola. Ia menargetkan debut di tim utama Persebaya dalam dua tahun ke depan, sekaligus menjadi teladan bagi generasi muda yang bermimpi menggapai bintang meski harus menapaki rel‑rel kereta api.