Ratusan Siswa SMPN 1 Gembong dan MTsN 3 Pati Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Berita, Pati34 Dilihat

PATI, PORTALMURIA.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, kembali menjadi sorotan. Puluhan hingga ratusan siswa dari SMPN 1 Gembong dan MTsN 3 Pati mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu MBG yang dibagikan pada Selasa (8/9/2026).

Pada Rabu (9/9/2026), suasana Puskesmas Gembong mendadak berubah tegang. Ambulans datang silih berganti membawa siswa yang mengeluhkan sakit perut dan gangguan pencernaan.

Sejumlah siswa terlihat menangis sambil memegangi perut. Gelombang pasien terus berdatangan hingga kapasitas Unit Gawat Darurat (UGD) Puskesmas Gembong disebut tak lagi mencukupi.

Sebagian siswa akhirnya harus dirujuk ke RSUD RAA Soewondo Pati untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Menu MBG yang dikonsumsi para siswa sehari sebelumnya berasal dari SPPG Gembong 1. Menu tersebut terdiri atas nasi bakar ayam suwir, telur ceplok, orek tempe, lalapan, kerupuk udang, dan semangka.

Kepala SMPN 1 Gembong, Dra. Istiana M.Pd., mengatakan gejala mulai terdeteksi ketika sejumlah siswa mengeluhkan kondisi tubuh mereka pada Rabu pagi.

“Awal ketahuannya malah tadi pagi. Tadi pagi itu anak-anak banyak yang ke kamar mandi, kemudian kami tanya. Kemudian siang semakin banyak,” ungkap Istiana.

Pihak sekolah kemudian berkoordinasi dengan Puskesmas Gembong dan membawa siswa yang mengalami keluhan untuk mendapatkan pertolongan.

Menurut Istiana, jumlah siswa SMPN 1 Gembong yang terdampak mencapai 103 anak.

Ia juga mengungkapkan adanya persoalan keterlambatan distribusi makanan pada Selasa. Biasanya, makanan diterima sekolah sebelum waktu istirahat pertama sekitar pukul 09.30 WIB. Namun, pada hari tersebut makanan baru tiba sekitar pukul 11.30 WIB.

“Kalau di tray itu kan ada tulisannya, dimakan sebelum jam 12. Sehingga begitu datang langsung kami berikan ke anak-anak,” jelasnya.

Menariknya, menurut pihak sekolah, saat makanan disantap kondisi siswa masih terlihat normal. Bahkan sejumlah siswa disebut menikmati makanan tersebut dan ada yang meminta tambahan.

“Anak-anak kemarin enjoy, senang-senang saja. Malah ada yang minta tambah. Setelah itu baru sore sama malam,” katanya.

Keluhan serupa juga terjadi di MTsN 3 Pati.

Kepala MTsN 3 Pati, Drs. H. Zaenal Arifin, M.Si., mengatakan makanan MBG pada Selasa datang sekitar pukul 12.00 WIB, sementara jadwal makan siswa sebelumnya sekitar pukul 11.20 WIB.

“MBG dari SPPG ini datangnya agak terlambat, sekitar jam 12-an. Anak-anak yang biasanya jadwal untuk makan itu jam 11.20, sampai jam 12 belum datang,” jelas Zaenal.

Menurutnya, gejala kesehatan mulai dirasakan siswa pada malam hari. Sekitar pukul 22.00–23.00 WIB, sejumlah siswa mulai mengeluhkan sakit perut dan mengalami diare.

“Efek yang dirasakan anak itu tadi malam, mulai jam 10–11 itu mulai sakit perut, kemudian berak ke belakang dan sering sampai tadi pagi,” ujarnya.

Zaenal menyebut sekitar 127 siswa MTsN 3 Pati terdampak. Selain siswa, sekitar 30 guru juga disebut turut mengalami keluhan.

Meningkatnya jumlah pasien membuat tenaga medis di Puskesmas Gembong harus menangani lonjakan pasien dalam waktu bersamaan.

Sebagian siswa yang membutuhkan penanganan lebih lanjut kemudian dirujuk ke RSUD RAA Soewondo Pati.

Pihak sekolah menyampaikan bahwa kondisi sejumlah siswa mulai membaik setelah mendapatkan perawatan medis. Salah satunya Aufa yang disebut mengalami perbaikan kondisi setelah mendapat penanganan di Puskesmas Gembong.

Namun, pertanyaan besar kini masih menggantung: apa sebenarnya yang menyebabkan puluhan hingga ratusan siswa mengalami gangguan kesehatan secara bersamaan?

Dugaan sementara mengarah pada makanan MBG yang dikonsumsi para siswa. Namun, penyebab tersebut belum dapat dipastikan sebelum hasil pemeriksaan dan pengujian keluar.

Puskesmas bersama dinas terkait masih melakukan penanganan terhadap para siswa sekaligus mengambil dan menguji sampel makanan untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut.

Hingga berita ini ditulis, sejumlah siswa masih menjalani perawatan di Puskesmas Gembong maupun RSUD RAA Soewondo Pati.

Peristiwa ini sekaligus menjadi alarm keras bagi pelaksanaan program MBG. Ketepatan waktu distribusi, keamanan pengolahan, kualitas bahan makanan, hingga pengawasan sebelum makanan dikonsumsi menjadi hal yang patut diperiksa secara menyeluruh.

Sebab, ketika makanan yang seharusnya menjadi asupan bergizi justru membuat siswa berbondong-bondong masuk ruang perawatan, persoalannya bukan lagi sekadar soal keterlambatan distribusi. Keselamatan penerima manfaat harus menjadi prioritas utama.

(Red.)