Doa ‘Pasrah’ Sekda Fahrudin di Tengah Karut-Marutnya Proyek Revit SD Rembang

Berita, Rembang, Rembang232 Dilihat

PORTALMURIA.COM, REMBANG – Pelaksanaan proyek rehabilitasi ruang kelas (Revit) SD oleh Dinas Pendidikan Rembang sedang dikepung polemik panas. Namun, alih-alih memberikan respons tegas atau instruksi evaluasi, Sekretaris Daerah (Sekda) Rembang, Fahrudin, justru memilih jalur spiritual.

Saat dimintai konfirmasi mengenai karut-marut proyek yang diwarnai isu intervensi oknum hingga material abal-abal tersebut, Fahrudin memberikan jawaban yang sangat irit sekaligus unik.

“Saya hanya bisa mendoakan semoga semua berjalan sesuai prosedur, Amiin,” ucap Fahrudin lewat pesan singkat, Selasa (01/9/2026).

Pernyataan “cuma bisa mendoakan” dari panglima ASN Rembang ini seolah menjadi sinyal kepasrahan birokrasi, atau mungkin sebuah sindiran halus agar para pelaksana proyek di bawah kembali ke “jalan yang benar” sesuai regulasi.

Doa Birokrasi Melawan Realita Kusen Keropos

Sementara doa dipanjatkan di pusat pemerintahan, Komisi IV DPRD Rembang justru harus mengelus dada saat berhadapan dengan realita di lapangan. Istilah “berjalan sesuai prosedur” tampaknya masih jauh panggang dari api.

Dalam sidak teranyar di SDN Tasiksono Lasem, legislator menemukan material kusen jendela dari kayu yang sudah keropos tetap dipaksakan dipasang. Doa Sekda kini berpacu dengan waktu sebelum material abal-abal tersebut telanjur disemen secara permanen.

“Beberapa sekolah yang kita sidak juga terindikasi menggunakan konsultan perencana dan pengawas dari pihak yang sama. Kita melihat bahwa kondisi jendela keropos, rusak kayunya tapi tetap dipertahankan dipasang. Kita menyayangkan dan kita minta untuk diganti,” cetus Puji Santosa, anggota Komisi IV DPRD Rembang.

Ujian Nyali Kepala Sekolah

Proyek Revit SD senilai belasan miliar ini menggunakan sistem swakelola murni kelompok masyarakat. Pihak sekolah bersama komite memegang kendali penuh atas anggaran dan pengerjaan sebuah sistem yang seharusnya steril dari pihak ketiga.

Namun, sistem ini justru bocor oleh hadirnya oknum-oknum luar yang mencoba mengintervensi demi mencari keuntungan pribadi. Dindikpora Rembang sendiri mengakui adanya tekanan psikologis yang dialami para kepala sekolah di lapangan. (B2)