Portal Muria – 19 April 2026 | Bandung kembali menjadi sorotan pada peringatan ke-71 Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang berlangsung 18‑25 April 2026. Di balik hiruk‑pikuk acara, satu bangunan bersejarah menampilkan jejak para pemimpin dunia yang pernah menapaki kota ini pada April 1955. Hotel Savoy Homann, yang terletak hanya selangkah (sekitar 200 meter) dari Gedung Merdeka, menyimpan tiga kamar eksklusif yang pernah diinapi Presiden Ir. Soekarno, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, dan Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok Zhou Enlai. Ketiga kamar tersebut kini dibuka untuk wisatawan yang ingin merasakan suasana masa lalu.
Menurut Yuke Yulianti, Marketing Communications Hotel Savoy Homann, kamar‑kamar berkelas Homann Suite berada di sudut hotel. Soekarno menempati kamar nomor 244 pada lantai dua, Nehru menginap di kamar 344, dan Zhou Enlai di kamar 444. Setiap kamar dilengkapi dua kamar tidur, bathtub, serta dua kamar mandi, mencerminkan standar kemewahan era art‑deco. Kamar Soekarno, yang menghadap langsung ke Jalan Asia‑Afrika, menampilkan interior kayu berwarna tanah, dua area tidur terpisah, ruang kerja, ruang makan, serta balkon bergaya art‑deco yang menghadap ke lengkungan ikonik hotel.
Keberadaan kamar‑kamar ini tidak sekadar menjadi daya tarik wisata, melainkan bagian penting dari rangkaian kegiatan yang diadakan oleh Museum Konferensi Asia‑Afrika. Pada Sabtu, 18 April 2026, museum meluncurkan walking tour bertajuk “Jejak KAA dalam 1 km”. Tur ini memulai perjalanan dari museum, melintasi Jalan Braga, Gedung YPK, Grand Hotel Preanger, dan akhirnya berhenti di Hotel Savoy Homann. Peserta tur dapat menyaksikan secara langsung jejak delegasi, termasuk ruang makan, peralatan makan, serta dokumentasi aktivitas para pemimpin yang menginap di hotel tersebut.
Selain Savoy Homann, tur juga menyentuh Hotel Swarha yang dulunya menjadi tempat istirahat jurnalis nasional, serta Kantor Pos Bandung yang pada masa itu menjadi pusat komunikasi dengan telegraf dan telepon. Pengunjung diberikan kesempatan mengirim kartu pos, merasakan atmosfer komunikasi era 1950‑an. Kegiatan ini menegaskan kembali nilai historis kawasan Jalan Asia‑Afrika, yang dulu menjadi jalur utama bagi delegasi, pers, dan pejabat pemerintah.
Kongres KAA 1955 sendiri menjadi tonggak penting dalam sejarah diplomasi dunia pasca‑Perang Dunia II. Tujuh hari pertemuan di Gedung Merdeka menyatukan 29 negara dari Asia dan Afrika, menandai solidaritas melawan kolonialisme dan memperkuat kerja sama internasional. Deklarasi yang dihasilkan, dikenal sebagai Dasasila Bandung, mencakup sepuluh prinsip dasar, antara lain penghormatan terhadap kedaulatan, non‑intervensi, hak asasi manusia, serta penyelesaian sengketa secara damai. Prinsip‑prinsip ini kemudian menjadi landasan Gerakan Non‑Blok.
Seiring berjalannya waktu, Hotel Savoy Homann tetap mempertahankan warisan tersebut. Pihak hotel secara resmi menyewakan kamar bersejarah tersebut kepada wisatawan, memberikan pengalaman menginap di tempat yang sama dengan Soekarno, Nehru, dan Zhou. Beberapa tamu melaporkan bahwa suasana kamar masih memancarkan aura era 1950‑an, dengan perabotan asli, lampu gantung art‑deco, serta pemandangan jalan yang kini dipenuhi kafe dan galeri seni.
Namun, tidak semua peringatan KAA tahun ini berjalan dengan gemerlap. Museum KAA melaporkan keterbatasan sumber daya, sehingga bendera 29 negara peserta konferensi tidak lagi dikibarkan di halaman Gedung Merdeka. Meskipun demikian, rangkaian acara seperti workshop menulis braille, program “Dixie on Site” tentang konservasi koleksi, serta walking tour tetap menarik minat publik, terutama generasi muda yang ingin memahami warisan Bandung dalam konteks global.
Dengan menggabungkan narasi sejarah politik, arsitektur, dan pariwisata, jejak KAA 1955 di Hotel Savoy Homann terus hidup. Kamar 244, 344, dan 444 menjadi saksi bisu diskusi, keputusan, dan refleksi para pemimpin dunia yang berusaha menata kembali peta politik pasca‑kolonial. Bagi pengunjung yang menginap, pengalaman ini bukan sekadar liburan, melainkan pelajaran sejarah yang dapat dirasakan secara langsung.
Keberlanjutan upaya pelestarian memerlukan dukungan publik dan kebijakan yang memprioritaskan pelestarian situs-situs bersejarah. Mengingat nilai edukatif dan simbolik yang dimiliki, Hotel Savoy Homann serta kawasan sekitarnya harus tetap dijaga agar generasi mendatang dapat terus menelusuri jejak KAA, belajar dari masa lalu, dan menginspirasi masa depan yang lebih damai.



