Operasi Penangkapan Ikan Sapu‑Sapu di Jakarta: Upaya Besar Pemerintah, Tantangan Alam, dan Potensi Ekonomi

Berita45 Dilihat

Portal Muria – 17 April 2026 | Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar operasi penangkapan massal ikan sapu‑sapu pada Jumat 17 April 2026. Kegiatan dimulai pukul 07.30 hingga 10.00 WIB dan melibatkan lima wilayah administratif: Jakarta Barat, Utara, Pusat, Selatan, dan Timur. Di Jakarta Barat operasi dilakukan di Kali Anak TSI, Duri Kosambi, Cengkareng; di Jakarta Utara di saluran RW 06 Kelapa Gading Barat; di wilayah lain juga dipersiapkan lokasi strategis untuk menurunkan populasi ikan invasif ini.

Koordinator operasi, Eny Suparyani, Kepala Bidang Perikanan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta, menjelaskan tujuan utama adalah mengurangi tekanan ikan sapu‑sapu pada ekosistem sungai serta mencegah pencemaran air akibat bangkai ikan yang tidak diangkut. Ia menambahkan bahwa peralatan yang disiapkan meliputi jala, jaring, serok, serta tim pemusnahan dan penguburan hasil tangkapan.

Sementara pemerintah menyiapkan operasi besar, nelayan setempat seperti Ajum (39 tahun) menegaskan bahwa pemberantasan total hampir mustahil. Menurutnya, ikan sapu‑sapu dapat menetas dengan sangat cepat; satu induk mampu menghasilkan ratusan hingga ribuan anak dalam satu kali bertelur. Ia membandingkan upaya pemberantasan dengan upaya membasmi nyamuk: “Dibasmi tetap ada lagi.” Meski begitu, Ajum mengakui pentingnya pembersihan sungai karena bangkai ikan yang menumpuk dapat mencemari lingkungan.

Tak hanya menjadi hama, ikan sapu‑sapu juga menyimpan nilai ekonomi. Hasil tangkapan dijual ke pengepul dan diolah menjadi aneka makanan seperti cilok, nugget, otak‑otak, dan kerupuk. Pendapatan tambahan ini menjadi sumber mata pencaharian bagi beberapa nelayan, meski skala produksi masih terbatas.

Pakar ikan dari IPB University, Dr. Charles PH Simanjuntak, menyoroti bahwa solusi tunggal tidak cukup. Ia menyarankan pendekatan terpadu yang mencakup pencegahan, penangkapan, dan kontrol biologis. Menurutnya, satu ekor betina dapat menghasilkan hingga 19.000 telur per siklus dan dapat bereproduksi beberapa kali dalam setahun. Jantan melindungi telur dalam liang yang digali, sehingga tingkat kelangsungan hidup dapat mencapai lebih dari 90 persen. Sifat omnivora dan kemampuan beradaptasi membuat ikan ini sangat resilien terhadap upaya pengendalian konvensional.

Berikut rangkaian langkah yang diusulkan oleh para pakar untuk mengendalikan populasi ikan sapu‑sapu secara berkelanjutan:

  • Pengawasan rutin pada titik masuk sungai, terutama di wilayah upstream yang menjadi sumber migrasi.
  • Penangkapan massal terjadwal pada musim penghujan, ketika ikan cenderung berkumpul di daerah aliran rendah.
  • Penggunaan predator alami atau introduksi spesies pemangsa yang tidak mengganggu ekosistem lokal.
  • Peningkatan kesadaran masyarakat lewat edukasi tentang bahaya ikan invasif dan cara memanfaatkan hasil tangkapan secara ekonomis.
  • Perbaikan kualitas air melalui pengendalian limbah industri dan domestik, karena ikan sapu‑sapu sering menjadi indikator perairan tercemar.

Data yang tersedia menunjukkan bahwa operasi penangkapan di Setu Babakan, Jagakarsa pada 17 April 2026 berhasil menangkap ribuan ekor ikan sapu‑sapu, yang kemudian dimusnahkan atau dikubur. Namun, populasi tetap bertahan di daerah lain, terutama di sungai Ciliwung yang memiliki jaringan aliran yang luas.

Secara keseluruhan, operasi penangkapan yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta merupakan langkah penting dalam upaya mengurangi dampak negatif ikan sapu‑sapu. Tantangan utama tetap pada kemampuan reproduksi ikan yang luar biasa dan kebutuhan akan perbaikan kualitas lingkungan secara menyeluruh. Integrasi antara tindakan pemerintah, partisipasi nelayan, dan riset ilmiah menjadi kunci untuk mengendalikan populasi secara berkelanjutan sambil memanfaatkan potensi ekonomi yang ada.