Pasutri Tuna Netra di Lasem Tak Lagi Terima Bansos Sejak 2020, Dinsos Rembang Janji Asesmen

Berita, Rembang1118 Dilihat

REMBANG, Jawa TengahPortalMuria.com – Nasib pasangan suami istri tuna netra di Kabupaten Rembang mengetuk nurani. Rondi dan Suharti, warga Desa Sendangasri, Kecamatan Lasem, mempertanyakan keberpihakan negara terhadap penyandang disabilitas setelah bertahun-tahun tak lagi menerima bantuan sosial (Bansos), meski hidup mereka masih serba kekurangan.

Tinggal di pinggir jalur Pantura Lasem, pasangan tunanetra ini bertahan hidup dari penghasilan yang tak menentu. Rondi mengandalkan profesinya sebagai tukang pijat keliling, sementara Suharti membantu sebisanya. Namun seiring waktu, pelanggan kian sepi.

“Sekarang sepi, Mas. Lebih sering tidak dapat hasil,” ujar Suharti lirih, Senin (15/12/2025).

Suharti mengungkapkan, keluarganya sempat menjadi penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH). Namun sejak sekitar tahun 2020, bantuan tersebut terhenti tanpa kejelasan. Tak hanya PKH, bantuan pangan non tunai (BPNT) pun tak lagi mereka terima.

“PKH tidak, BPNT juga tidak. Kami ini sebenarnya masih masuk kriteria atau tidak, kami juga tidak tahu,” ucapnya penuh tanya.

Kondisi ini membuat pasangan tersebut merasa seolah terlewat dari radar bantuan pemerintah, padahal secara ekonomi dan keterbatasan fisik, mereka masih sangat membutuhkan uluran tangan.

Terkait kondisi rumah yang kini sudah berdinding tembok dan berlantaikan keramik, Suharti menegaskan hal itu bukan hasil bantuan pemerintah. Rumah tersebut direnovasi berkat bantuan anaknya.

“Kalau alasan rumah saya sekarang lebih bagus, itu bantuan dari anak. Bukan dari pemerintah,” tegasnya.

Ia menambahkan, meski rumah tampak layak, kebutuhan hidup sehari-hari tetap berat dipenuhi, terlebih dengan keterbatasan penghasilan dan kondisi disabilitas yang mereka alami.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB) Kabupaten Rembang, Nurdin Fahrudi, memastikan pihaknya akan menindaklanjuti laporan tersebut.

“Kami akan memastikan dulu data by name, alamat, dan NIK-nya. Akan kami kroscek dengan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN),” jelas Nurdin saat dihubungi terpisah.

Ia juga berjanji akan menurunkan petugas untuk melakukan asesmen langsung ke rumah pasangan tunanetra tersebut.

“Kita akan lakukan asesmen untuk mengidentifikasi kebutuhan dan kondisi riil keluarga. Petugas kami akan datang langsung,” pungkasnya.

Kasus ini kembali membuka pertanyaan besar soal akurasi data Bansos dan keberlanjutan perlindungan sosial bagi penyandang disabilitas, khususnya mereka yang hidup di lapisan paling rentan.

(Red.)