Rembang , PortalMuria.com – Warga Desa Mrayun, Kecamatan Sale, diguncang kabar mengejutkan pada Kamis pagi (11/9/2025). Sesosok mayat laki-laki ditemukan tergeletak di bendungan desa, dengan sebilah pisau dapur di sampingnya. Korban diketahui berinisial MLH (28), seorang aparatur sipil negara (ASN) di Badan Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Kabupaten Rembang.
Dari Kantor ke Portal Tambang, Kini Berujung Bendungan
Sekda Rembang, Fahrudin, membenarkan bahwa korban adalah staf BPPKAD bidang penagihan, keberatan, dan pelaporan. Uniknya, meski berstatus ASN/PPPK, sehari-hari MLH justru lebih banyak berjaga di portal tambang ,salah satu sumber pemasukan PAD daerah.
“Betul itu ASN Pemkab Rembang. Kami ikut berduka, semoga keluarga diberi ketabahan,” ucap Sekda dengan nada prihatin.
Jejak Darah Menuju Bendungan
Dari penelusuran di lokasi, suasana mencekam menyelimuti warga. Babinsa Mrayun, Serda Sukismanto, menyebut ratusan orang berkerumun menyaksikan evakuasi jenazah.
Yang mengagetkan, sebelum ditemukan di bendungan, korban diduga sempat melakukan aksi nekat di dapur rumahnya sendiri. Diduga masih bernapas, MLH kemudian berlari sekitar 150–200 meter menuju bendungan. Jejak darah yang tercecer di tanah menjadi saksi bisu langkah terakhirnya.
Polisi Buka Suara: Dugaan Bunuh Diri
Kasat Reskrim Polres Rembang, AKP Alva Zakya Akbar, melalui Kaur Binops Satreskrim, Iptu Widodo Eko Prasetyo, mengonfirmasi bahwa pisau di TKP adalah milik korban sendiri.
“Berdasarkan keterangan awal keluarga, ada indikasi korban mencoba bunuh diri. Namun olah TKP dan pemeriksaan saksi masih berjalan. Belum ada tanda pembunuhan,” tegasnya.
Misteri yang Belum Terjawab
Hingga kini, motif di balik aksi nekat ASN muda itu masih simpang siur. Informasi awal menyebutkan adanya persoalan pribadi yang tengah diselidiki polisi.
Jenazah MLH dievakuasi dari bendungan ke Puskesmas Sale sebelum dibawa ke rumah duka untuk pemeriksaan medis lebih lanjut.
Kasus ini sontak menggemparkan warga Rembang. Bagaimana mungkin seorang ASN yang dipercaya menjaga sumber PAD daerah, justru mengakhiri hidupnya dengan cara tragis di bendungan desa?
(Red.)










