Cak Imin: Demo Itu Hak, Tapi Anarki Ada Harga yang Harus Dibayar

Nasional701 Dilihat

Jakarta , PortalMuria.com – Jalanan Indonesia dalam sepekan terakhir menjadi panggung besar bagi demonstrasi rakyat. Dari Jakarta, Surabaya, Makassar, hingga Yogyakarta, suara massa bergema, menyuarakan aspirasi yang beragam. Namun, di balik teriakan lantang, juga tersisa puing-puing terbakar, kaca pecah, dan catatan kelam soal anarki.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Muhaimin Iskandar, menegaskan pemerintah tidak menutup mata pada dinamika ini. Bagi Cak Imin, demo adalah ruang yang harus dijamin.

“Harus ada ruang bagi hak masyarakat melakukan demo,” ujarnya di Kantor Kemenko PM, Jakarta Pusat, Selasa (2/9/2025).

Tapi, batasnya jelas. Hak menyuarakan aspirasi tidak boleh bergeser menjadi hak untuk merusak.

“Begitu menunjukkan anarki, tanda-tanda anarkis maka akan ada tindakan tegas,” tegasnya.

Evaluasi Bukan Sekadar Formalitas

Cak Imin juga menyinggung soal pihak-pihak yang menjadi sasaran kritik. Menurutnya, pemerintah maupun DPR sudah mulai melakukan evaluasi internal. Tetapi pekerjaan rumah selanjutnya adalah mempercepat penyerapan aspirasi dan menghadirkan solusi nyata.

“Nah tinggal memperlancar penyerapan aspirasi dan solusi-solusi kepada masyarakat,” katanya.

Luka di Lapangan

Namun, narasi aspirasi rakyat ternyata dibayar mahal oleh kerusakan fasilitas publik. Berikut potret nyata kerusakan akibat aksi:

  • Jakarta: 22 halte TransJakarta rusak, stasiun MRT lumpuh sebagian, 7 gerbang tol dibakar, pos polisi hancur, hingga rambu lalu lintas dicabuti.
  • Surabaya: Gedung Negara Grahadi terbakar, transportasi umum lumpuh.
  • Makassar: Gedung DPRD dibakar, kendaraan dinas dirusak, ATM dijarah.
  • Yogyakarta: Gedung SIM dan SPKT Polda DIY hangus terbakar, Sultan HB X turun langsung menenangkan rakyat.
  • Solo: Gedung Sekretaris DPRD terbakar, fasilitas umum porak-poranda.
  • Bandung: Wisma MPR jadi arang.
  • Pontianak: Gedung DPRD dan pos polisi jadi sasaran massa.

Tak hanya itu, laporan berbagai lembaga independen mencatat adanya korban jiwa, ratusan orang ditahan, dan pembatasan media di lapangan.

Jalan Tengah: Aspirasi yang Didengar, Kekerasan yang Ditindak

Situasi ini menyodorkan dilema besar. Di satu sisi, demonstrasi adalah napas demokrasi. Di sisi lain, anarki yang membonceng aspirasi justru merugikan rakyat sendiri.

Cak Imin menutup dengan nada optimis, bahwa ruang demokrasi harus tetap hidup, namun negara juga tidak boleh ragu bersikap saat aksi berubah menjadi ancaman.(Red.)