Puisi Keras M.Zaim Djaelani: “Kemana Agama?” Sindir Korupsi hingga Topeng Agama

Lifestyle324 Dilihat

Pati , PortalMuria.com – Kritik sosial kembali hadir lewat karya sastra.Ketua Aswaja center Pati M. Zaim Djaelani meluncurkan sebuah puisi berjudul “Kemana Agama?” yang menggugat realitas bangsa yang disebut-sebut paling religius, namun justru sarat praktik korupsi, penyelewengan, hingga kemunafikan pejabat.

Puisi ini lahir di tengah maraknya kasus korupsi yang seolah tak mengenal batas, mulai dari level pusat hingga desa. Djaelani menyoroti ironi: di satu sisi masyarakat mengaku taat beragama, tapi di sisi lain praktik busuk justru dijalankan tanpa rasa malu.

Berikut kutipan lengkap puisinya:

Kemana Agama?

Karya: M. Zaim Djaelani

Di negeri konon paling beragama
Korupsi tak terkontrol merajalela
Tak ada sungkan dan malu-malunya
Dari pimpinan nasional sampai desa

Dari hasil tambang yang menggiurkan
Sampai bansos-pun kena potongan
Dari ruang gelap tata niaga minyak
Sampai urusan ibadahpun kena palak

Dari para pejabat tinggi nan mentereng
Sampai pejabat bawah nan kerempeng
Canggih menggulirkan ide dan gagasan
Sambil mencari peluang dan kesempatan

Saat bersholat khusuk penuh ketakutan
Saat di kantor tak berperikemanusiaan
Mainkan jurus nilep sana nilep sini
Sama sekali lupa Tuhan dan jatidiri

Agama hanya jadi simbol identitas
Jadi topeng biar elok dan pantas
Walaupun muka aslinya barongan
Penuh ketamakan dan kebengisan

Agama tidak salah pada ajarannya
Tapi rawan disabotase badut loba
Entah kapan Tuhan harus murka?
Agar agama kembali suci pada fitrahnya

(MZ, 4-3-2025)

Puisi yang ditulis pada 4 Maret 2025 ini menohok langsung wajah moral bangsa. Dengan gaya satir, Djaelani menyingkap tabir kepalsuan: pejabat yang rajin tampil religius, namun rakus saat berkuasa.

“Agama tidak salah, yang salah adalah manusia serakah yang menyabotase nilai-nilainya,” begitu inti pesan dari puisi tersebut.

Tak sedikit pembaca yang menilai karya ini sebagai cermin telanjang bangsa. Ia bukan sekadar kritik, melainkan alarm keras agar agama tidak hanya dijadikan simbol dan formalitas, melainkan benar-benar dijalankan dalam kehidupan nyata.(Red.)