Pati, PortalMuria.com — Aroma ketidakadilan makin menyengat di Kabupaten Pati. Sebanyak 220 mantan pegawai honorer RSUD Soewondo Pati yang diberhentikan secara massal mendatangi posko penggalangan donasi untuk aksi demo besar-besaran pada 13 Agustus 2025. Mereka datang Minggu sore (10/8/2025) pukul 17.06 WIB, membawa spanduk berisi tuntutan yang menusuk langsung ke jantung kekuasaan.
Alasan “efisiensi anggaran” yang digunakan Bupati Pati, H. Sudewo, untuk memutus hubungan kerja rupanya justru menimbulkan pertanyaan besar. Pasalnya, di tengah gelombang pengangguran yang mereka alami, beredar kabar bahwa RSUD Soewondo tengah bersiap merekrut pegawai honorer baru.
“Kalau alasan efisiensi itu benar, kenapa sekarang mau buka rekrutmen lagi? Kami menuntut dipekerjakan kembali. Kalau tidak, Bupati Sudewo harus mundur!” tegas salah satu perwakilan, Ibu Ruha, yang telah mengabdi di RSUD Soewondo selama 20 tahun.
Ruha menceritakan pahitnya dipecat tanpa pesangon sepeser pun. Ia masuk ke RSUD melalui tes resmi, memiliki bukti kelulusan, dan bertahun-tahun mengabdi di sektor vital pelayanan kesehatan. Kini, hidupnya berubah drastis — dari tenaga kesehatan menjadi ibu rumah tangga tanpa penghasilan, setelah ditolak di berbagai tempat kerja karena faktor usia.
Kisah serupa dialami M. Roni, rekan seperjuangan yang juga sudah dua dekade mengabdi di rumah sakit tersebut. “Efisiensi katanya, tapi hidup kami justru jadi berantakan. Ekonomi terpuruk, kerja susah, sekarang menganggur. Kami warga asli Pati, kami manusia, bukan angka di atas kertas,” ucapnya lantang.
Aksi demo 13 Agustus mendatang diprediksi bukan sekadar unjuk rasa biasa, melainkan titik ledak dari akumulasi kekecewaan berbagai elemen masyarakat. Tim investigasi kami menemukan indikasi bahwa proses PHK massal ini tidak disertai dokumen pemberhentian yang memadai dan tanpa mekanisme perlindungan pekerja yang jelas. Jika benar RSUD Soewondo melakukan rekrutmen baru dalam waktu dekat, publik patut mempertanyakan: Apakah “efisiensi” hanya kedok untuk menyingkirkan orang lama?
Bupati Sudewo hingga berita ini diturunkan belum memberikan klarifikasi langsung terkait kabar rekrutmen baru maupun tuntutan mantan pegawai. Sementara itu, spanduk-spanduk protes sudah berkibar, dan dukungan logistik dari berbagai daerah terus mengalir ke Pati.
Gelombang perlawanan ini sepertinya baru permulaan. Dan 13 Agustus, semua mata akan tertuju ke Pati. (Red.)








